Krematorium di Cirebon Duga Ada Calo di Balik Kartel Kremasi

Sudirman Wama - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 17:08 WIB
Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan. (Sudirman Wamad)
Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan (Sudirman Wamad/detikcom)
Kota Cirebon -

Dugaan adanya praktik kartel kremasi jenazah pasien COVID-19 menggemparkan publik. Bahkan, disebut-sebut, kartel kremasi itu melibatkan krematorium di Cirebon, Jawa Barat.

Merespons adanya informasi tersebut, Krematorium Yayasan Pancaka Seroja yang berada di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merasa disudutkan. Sebab, Krematorium Yayasan Pancaka Seroja satu-satunya tempat kremasi di Wilayah III Cirebon, atau Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuning (Ciayumajakuning).

"Kalau krematorium di Cirebon ini sifatnya untuk sosial. Kota di sini untuk kremasi jenazah itu hanya Rp 2.560.000. Kalau untuk pasien COVID-19 yang dikremasi di sini ada tambahan biaya untuk APD dan disinfektan," kata Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/7/2021).

Ramlan menjelaskan, pembiayaan untuk kremasi jenazah COVID-19 hanya Rp 3 juta. "APD dan disinfektan itu Rp 240 ribu. Kemudian tambah administrasi Rp 60 ribu. Dan, ditambah biaya pelarungan Rp 200 ribu. Total Rp 3 juta untuk yang pasien COVID-19," kata Ramlan.

Pihaknya tidak memaksa ahli waris untuk melalukan pelarungan abu jenazah. "Kalau mau dilarungkan, ya, tinggal tambah biaya Rp 200 ribu," kata Ramlan.

Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan. (Sudirman Wamad)Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan (Sudirman Wamad/detikcom)

Ia pun kaget mendengar kabar biaya kremasi yang mencapai puluhan juta. Ramlan menjamin naiknya biaya kremasi bukan dari pihak krematorium. Ramlan pub mengaku telah menyiapkan antisipasi agar biaya kremasi tak dimainkan oleh orang yang tak bertanggung jawab.

"Kita sendiri awalnya tidak tahu ada kabar itu. Setelah ada kabar itu, kita langsung beri tahu staf agar kalau ada yang mau dikremasi harus diketahui oleh ahli waris dari almarhum," kata Ramlan.

Selanjutnya, diduga ada permainan calo:

Simak juga 'Pengelola Krematorium di Semarang Kewalahan Bakar Jenazah Pasien Corona':

[Gambas:Video 20detik]