Jokowi Singgung Sense of Crisis, Kerja Sejumlah Menteri Dipertanyakan

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 17 Jul 2021 14:33 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan para pimpinan kementerian/lembaga terkait sense of crisis di masa pandemi COVID-19. Pimpinan Kementerian/Lembaga dan para menteri pun dipertanyakan kerjanya.

Hal itu diungkapkan pakar ilmu politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio atau Hensat. Ia menilai menteri di deretan kabinet Jokowi kerap kali memberikan pernyataan atau sikap yang tidak etis bertentangan dengan situasi pandemi COVID-19.

"Sense of crisis itu penting ya karena akhir-akhir ini kita bisa melihat banyak menteri Jokowi yang kelihatannya jalan sendiri, bahkan bertentangan dengan apa yang dilakukan Pak Jokowi, misalnya pada saat Pak Jokowi blusukan gitu ya, itu sementara ada Pak Menko yang nge-tweet nonton sinetron. Terus menterinya ada yang di luar negeri ketawa-ketawa, terus ada juga menteri yang ada di negara lain juga," kata Hensat saat dihubungi, Sabtu (17/7/2021).

Ia mengkritik kebijakan beberapa menteri justru dinilai kurang memiliki kepekaan terhadap pandemi COVID-19. Contohnya ada menteri yang melontarkan pernyataan kontroversial di tengah masa PPKM darurat.

"Jadi sebetulnya ada beberapa menteri yang di luar negeri, ada juga menteri yang marah-marah mau mindahin ASN, terus Menteri Sosial-nya ini bikin dapur umum, programnya kelas wali kota penanggulangan banjir. Nah, itu jadi penting itu sense of crisis itu. Sekarang kan kondisinya belum membaik, itu jadi memang apa yang disampaikan Pak Jokowi kemarin sangat valid," ujarnya.

Lebih lanjut Hensat juga mempertanyakan ke mana pimpinan kementerian dan lembaga lainnya karena seperti tidak terlihat kinerjanya. Sebab, sosok menteri yang muncul di publik dinilai hanya itu-itu saja.

"Tapi saya mau kasih pesan gini juga, menteri Pak Jokowi itu kan ada 34 ya, terus kepala lembaga yang dilantik presiden ada 15 atau lebih, sementara yang muncul ke warga ke masyarakat terlihat langsung tindakannya dalam penanganan COVID-19 itu ya paling cuma 10. Yang lain ke mana?" tanya Hensat.

"Nah, menurut saya, Pak Jokowi sudah mencontohkan kemarin dia sendiri blusukan. Jadi ayo, keluar semua para menteri, para kepala lembaga, para pejabat pemerintah dengan melaksanakan protokol ketat, mari bantu rakyat. Itu hal yang sama juga untuk kepala daerah dan anggota MPR," katanya.

Hensat mengaku situasi tersebut justru memprihatinkan karena menteri Jokowi dinilai jalan sendiri. Oleh sebab itu, Jokowi mengingatkan agar semua pihak bersatu melawan pandemi.

"Jadi salah satu yang memprihatinkan menurut saya juga ini persepsi yang saya lihat menterinya Pak Jokowi itu jalan sendiri-sendiri itu. Makanya yang diingatkan Pak Jokowi itu semuanya seolah-olah akibat menteri yang jalan-jalan sendiri-sendiri itu, yang ke luar negeri itu kan sangat menohok," imbuhnya.


Menteri Diminta Fokus Tangani Pandemi

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai sikap Presiden Jokowi yang mengingatkan terkait sense of crisis di masa pandemi COVID-19 artinya para menteri diminta fokus dulu menangani Corona di dalam negeri. Sebab, menurutnya, ada beberapa menteri yang seolah-olah tidak kelihatan bekerja.

"Yang penting kalau di sini kerja, kan nggak kelihatan menteri yang lain kerja, karena yang kelihatan kerja kan ada Pak LBP, Pak Menkes, ada Menlu, ada Menteri BUMN. Yang lain nggak tahu kerja. Ada yang nonton sinetron, ada yang marah-marah di dapur umum," ungkap Agus, saat dihubungi terpisah.

Menurutnya, Jokowi menginginkan semua pihak fokus terhadap penanggulangan pandemi Corona serta mengesampingkan hal lain yang dianggap tidak berkaitan.

"Jadi Presiden hanya perlu semua menteri konsentrasi bagaimana nanggulangi ini. Jadi jangan urusan lain, itu sudah belakangan saja, katanya kan mau menjemput investor atau apalah, itu nggak usah dulu, nanti dulu, mikirin ini dulu," imbuhnya.

Lihat juga Video: Vaksinasi Berbayar Dikritik, Kini Dibatalkan Jokowi

[Gambas:Video 20detik]