Dokter Muda di Papua Barat Meninggal Dunia Akibat COVID-19

Antara - detikNews
Sabtu, 17 Jul 2021 01:48 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Duka mendalam tengah menyelimuti keluarga besar RSUD Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Sebab salah satu dokter muda terbaik mereka meninggal dunia akibat COVID-19.

Dokter asal Papua, dr Nydia Ayomi, menghembuskan nafas terakhir pada pada Kamis, (15/7) setelah berjuang melawan Corona. Meninggalnya putri Papua itu membuat duka mendalam bagi masyarakat Wondama.

"Kami sangat kehilangan sekali," ucap Direktur RSUD Teluk Wondama, dr Yoce Kurniawan, seperti dilansir Antara, Jumat (16/7/2021).

Ayomi sehari-hari bertugas sebagai dokter jaga di UGD RSUD Teluk Wondama di Wasior. Meski tidak masuk dalam tim isolasi untuk penanganan pasien COVID-19, posisinya sebagai dokter jaga UGD membuat dia hampir setiap waktu bersentuhan langsung dengan orang-orang yang terinfeksi Corona.

"Karena UGD itu pintu masuk semua pasien termasuk yang terinfeksi COVID-19 datang untuk mendapatkan pelayanan medis," ujar Kurniawan.

Tuntutan pelayanan itulah yang membuat Nidya akhirnya terpapar COVID-19. Saat terkonfirmasi positif, dokter kelahiran 1991 itu tengah hamil tujuh bulan. Sempat isolasi mandiri selama tiga hari, kesehatan Ayomi tak kunjung membaik.

Kehadiran riwayat hipertensi berat membuat kondisinya semakin buruk sehingga harus masuk peraawatan di ruang isolasi. Dua hari di ruang isolasi belum juga ada tanda-tanda membaik. Gejalanya semakin berat meskipun telah diberikan oksigen tekanan tinggi.

Tim dokter kemudian memutuskan merujuk dia ke luar Wondama mengingat kondisinya yang tengah hamil besar sementara di RSUD Teluk Wondama sedang tidak ada dokter kandungan.

"Kehamilan itulah yang membuat kami merujuk yang bersangkutan ke Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat untuk mendapatkan pelayanan maksimal. Karena selain hamil yang bersangkutan juga sedang terpapar COVID-19 berat dan dengan oksigen dosis tinggi pun masih belum cukup," kata Kurniawan.

Sempat kesulitan mendapatkan RS di Manokwari dan Jayapura karena sudah penuh, Ayomi akhirnya mendapatkan tempat perawatan di salah satu rumah sakit di Biak, Provinsi Papua.

Dua hari setelah masuk rumah sakit di Biak, tim dokter setempat lantas memutuskan mengoperasi caesar untuk menyelamatkan bayinya. Operasi berjalan lancar. Seorang bayi laki-laki dengan berat 1,3 kg lahir dengan selamat.

Namun sang bayi harus dirawat di inkubator karena lahir prematur. "Sekarang sang bayi diawasi ketat di sana," kata Kurniawan.

Kelahiran sang buah hati sempat membuat kondisi Ayomi membaik. Sehari pasca operasi caesar, anak pertama dari pasangan Darmono Kis dan Betsiana Ayomi ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Ia bisa membuka mata, mengangkat tangan dan mengerti apa yang ditanyakan kepadanya. Bahkan bisa mengecek handpone sendiri.

"Tapi besok paginya menurun drastis dan akhirnya meninggal di RS Biak pada hari Kamis malam (15/7). Anaknya masih selamat, dan mudah-mudahan selamat karena itu pengikat mereka berdua kan," kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Wondama itu.