Pedagang di Tanah Abang Kucing-kucingan dengan Aparat demi Mengisi Perut

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 13:40 WIB
Situasi Pasar Tanah Abang di tengah PPKM darurat
Situasi Pasar Tanah Abang di tengah penerapan kebijakan PPKM darurat (Adhyasta Dirgantara/detikcom)
Jakarta -

Kebijakan PPKM darurat berimbas pada aktivitas mencari nafkah para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus). Meski diminta tutup oleh pemerintah, sejumlah pedagang diam-diam tetap membuka toko mereka.

Pantauan detikcom di Jalan Jatibaru X, Jumat (16/7/2021), beberapa pedagang yang kucing-kucingan dengan aparat demi membuka kiosnya. Mereka langsung buru-buru kembali menutup kios saat aparat gabungan polisi dan Satpol PP melakukan patroli.

"Mohon bersabar ya, Bapak, Ibu. Tutup dulu jualannya selama PPKM darurat," kata Kanit Patroli Polsek Tanah Abang Kompol Margiyono yang memimpin patroli kepada para pedagang dengan pengeras suara.

Patroli tersebut diikuti sekitar 25 personel. Margiyono menyebut sektor usaha para pedagang tidak termasuk kritikal dan esensial, sehingga pedagang yang melanggar dapat dikenai sanksi pidana.

"Kalian bukan termasuk esensial dan kritikal soalnya. Kalau ketahuan buka, reserse kami bisa memproses dengan pidana lho," sambung Margiyono.

Margiyono beserta anggota lainnya menegur pedagang-pedagang yang masih tetap berada di depan kiosnya. "Hayo, kamu buka, ya? Tutup sudah, siapa juga yang mau beli di masa PPKM darurat gini. Ayo, pulang," tegur Margiyono.

Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Tanah Abang yang enggan namanya disebutkan mengungkapkan imbas buruk kebijakan PPKM darurat bagi usahanya. Dia bahkan mengungkapkan pedagang di Tanah Abang sudah tidak memiliki harapan.

"Makin hancur lagi. Bisa dibilang sudah nggak ada harapan lagi. Kalau kata orang, itu sudah nggak ada harapan. PPKM itu bukan solusi. Yang jelas, depan mata itu kelaparan semua," tutur si pedagang.

Dia bercerita tidak bisa mengirim uang bulanan ke anak dan istrinya yang kini tinggal di Yogyakarta. Dia mengutarakan semua pedagang sudah kehabisan uang.

"Cuma kalau usaha, sudah nggak ada solusi. Logikanya gini, sekarang mau ngerampok, siapa yang mau dirampok? Siapa yang punya duit? Ya masih ada. Yang punya duit, ya pejabat, menteri. Selain itu nggak ada. Teman saya saja yang punya hotel, home stay, ancur semua di Borobudur itu," ungkap pedagang itu.

"Ya (aparat) cuma nyuruh tutup. Kalau diginiin orang juga capek. Malah mancing kericuhan. Kalau keras, ya orang juga bisa keras. Permasalahannya sama perut. Kalau dua hari mah nggak apa-apa. Orang sudah 2 tahun kok," ujar pedagang tersebut.

(aud/aud)