Makna Esoterik Al-Qur'an (7)

Al-Qur'an dan Avatara

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 05:29 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dalam tradisi Hinduisme, Avatara yang biasa juga disebut Awatara atau Avatar berarti inkarnasi atau manifestasi Tuhan turun ke bumi yang mengambil bentuk dunia materi untuk memberi petunjuk dan menyelamatkan alam dari kehancuran, terutama orang-orang yang senantiasa menegakkan bhakti dan dharma. Ini sesuai dengan kitab Bhagavad Gita: Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge (Ketika kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna). Untuk menyelamatkan orang-orang saleh dan membinasakan orang jahat dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman).

Dalam kitab Purana dijelaskan bahwa Dasa Awatara (10 jenis Avatara) diyakini sebagai penjelmaan Dewa Wisnu dalam bentuk dunia materi sebagai misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara, sembilan di antaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat untuk turun ke dunia. Selain 10 Avatara dalam kitab-kitab Purana dan Veda juga dikenal beberapa di antara orang dianggap sebagai Avatara oleh umat Hindu dan yang yang meyakininya. Mereka adalah orang-orang dengan kekuatan jasmani dan rohani yang luar biasa jika dibandingkan dengan manusia normal dan diyakini sebagai penitisan Tuhan atau manifestasinya.

Kehadiran Avatara dianggap sebagai simbol petunjuk Tuhan dalam bentuk fisim duniawi. Tubuh sang pembawa petunjuk dianggap sebagai kalam atau bentuk lahir dari petunjuk itu. Hal ini mirip dengan atau sama tradiri Kristiani Sang Kristus dianggap sebagai kalam-Nya. Dalam tradisi kekristenan bahasa ritual tidak dipersoalkan, apakah orang akan menggunakan bahasa Latin, Yunani, Arab, atau bahasa Indonesia. Yang penting para peserta kebaktiannya bisa merasakan "darah dan tubuh Kristus". Bahasa Latin yang sering dugunakan dalam acara ritual keagamaan Katolik hanyalah Bahasa liturgi, bukannya bahasa suci. Dalam tradisi Budhisme sang Budha sendiri sebagai "Avatara" (inkarnasi). Bahasa pengungkapan sang Budha tidak soal menggunakan bahasa apa, yang penting pesan sang Budha termanifestasi. Teks-teks agama Budha di masa awal termaktub ke dalam Bahasa Sansekerta kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Pali, Tamil, China, Thailan, dll. Seseorang bisa menjadi penganut agama Budha terbaik tanpa harus menguasai bahasa Sansekerta. Dalam sejumlah agama sebagaimana disebutkan di atas bentuk lahir dari kata-kata atau kalam-Nya bukanlah sebuah Bahasa, karena yang tampil sebagai bahasa ialah sang Avatara.

Berbeda dengan tradisi Islam, sang penyebar atau pembawa ajaran (Nabi Muhammad Saw) tidak dianggap firman Tuhan tetapi hanya dianggap sebagai pembawa firman. Al-Qur'an dan Nabi Muhammad tidak bisa disamakan dengan agama-agama tersebut di atas, yang menganggap pembawa ajaran sebagai "kitab suci". Menerjemahkan kitab suci ke dalam berbagai Bahasa lalu menggunakan Bahasa-bahasa terjemahan itu sebagai Bahasa ritual tidak ada masalah. Berbeda dengan Islam, Al-Qur'an yang berbahasa Arab itu yang tampil sebagai Kitab Suci. Terjemahannya tidak bisa digunakan sebagai Bahasa liturgi karena dianggap sah, sebab Al-Qur'an tidak terletak pada terjemahan tetapi pada wujud Kitab Suci-Nya yang berbahasa Arab. Hanya ada satu pendapat (qaul) yang dinukil dari Imam
Abu Hanifah, yang membolehkan shalat dengan menggunakan Bahasa Persia tetapi belakangan di-nasakh dengan qaul jadidnya.


Nabi Muhammad sebagai sang penyebar agama tidak dianggap Firman Tuhan dan tubuhnya tidak dianggap bentuk lahir dari kalam-Nya. Kitab Suci Al-Qur'an yang berbahasa Arab itulah tampil sebagai sang Firman. Bunyi dan pengucapan Al-Qur'an yang berbahasa Arab itu merupakan bagian dari petunjuknya dan peranannya dapat diparalelkan dengan tubuh Kristus dalam tradisi Kristen. Dengan demikian, tidak tepat anggapan sementara orang yang memaralelkan Al-Qur'an dan Bibel (Alkitab). Yang tepat tubuh sang Kristus parallel dengan Al-Qur'an.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta


Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Lihat juga Video: Polri Selidiki Wanita Penghina Al-Qur'an & Pembakar Bendera Merah Putih!

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)