Membedah Fenomena Pembuat Konten YouTube dengan Aksi Maut Hadang Truk

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 15 Jul 2021 11:45 WIB
Man holding hand of girl lying on road, unconscious victim of car accident, 911
Ilustrasi korban tabrakan dalam kecelakaan lalu lintas. (iStock)
Jakarta -

Seorang remaja 13 tahun tewas ditabrak truk saat membuat konten YouTube menghadang truk. Psikolog menjelaskan, remaja memang cenderung mencari self esteem (harga diri), itu normal. Media sosial membuat motivasi lebih kuat. Aspek penjagaanlah yang perlu dipertanyakan.

"Pelakunya remaja, memang itu adalah fase-fase butuh pengakuan, membangun jati diri," kata psikolog Tika Bisono kepada detikcom, Kamis (15/7/2021).

Alumni Universitas Indonesia (UI) yang menjadi dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana ini memahami perkembangan kejiwaan manusia memang normal mengalami tahapan itu. Remaja tidak bisa disalahkan. Kini, media sosial mendongkrak kejiwaan remaja menjadi lebih berani melakukan hal-hal yang berbahaya.

"Godaan untuk melakukan hal-hal ekstrem menjadi lebih tinggi di era media sosial. Remaja itu butuh pengakuan diri. Ketika mereka mendapat komentar, 'Gila, nggak ada otak! Keren!', self esteem menjadi melesat. Perasaan itu dibutuhkan dalam membangun jati diri manusia," kata Tika.

"Apalagi semakin viral semakin banyak Anda mendapatkan uang," kata Tika.

Terlebih lagi di era pandemi COVID-19, banyak orang mencari hiburan. Khusus remaja, mereka menggunakan internet cenderung untuk menghibur diri.

Tika menyoroti penjagaan di lingkungan yang lemah sehingga tahapan pencarian jati diri berubah menjadi maut. Apabila penjagaan berjalan dengan baik, fase perkembangan psikologis remaja bisa lebih aman.

"Where the hell are the cops? Patroli harus dilakukan, jangan selalu menyalahkan masyarakat," kata Tika.

Selanjutnya, soal tewasnya ABD itu.

Lihat juga Video: Sopir Truk Ini Maki Polisi Saat Penyekatan PPKM Darurat di Mojokerto

[Gambas:Video 20detik]