Cerita Penyandang Disabilitas Jual Kopi Keliling Pakai Motor Listrik

Khoirul Anam - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 10:49 WIB
Disabilitas Bandung jualan kopi keliling pakai motor listrik.
Foto: dok. Kemensos
Jakarta -

Menjadi penyandang disabilitas bukan berarti harus kehilangan semangat. Saparman (50), pria asal Bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu contohnya. Sejak subuh ia sudah mempersiapkan barang dagangannya sebagai penjual tisu dan kopi keliling.

Sudah sebelas tahun ia menetap di Rusunawa Baleendah. Ia biasa mengawali kegiatannya berjualan di SMPN 1 Baleendah.

"Biasanya saya keliling Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Batununggal, Kebon Kelapa sampai ke Alun-alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung. Tapi karena sedang PPKM jadi hanya keliling di sekitar Baleendah dan Buahbatu," kata Saparman dalam keterangan tertulis Kemensos, Rabu (14/7/2021).

Setelah mangkal di sekolah, Saparman berpindah tempat ke Rumah Sakit Al Ihsan Baleendah hingga zuhur lalu pulang untuk mengisi termos dan beristirahat.

"Sorenya saya berangkat lagi ke Carrefour Buah Batu, jualan sampai maghrib atau sampai air termos habis, lalu pulang lagi jam 7 malam," kata Saparman.

Diketahui, Saparman merupakan penerima bantuan ATENSI berupa motor listrik roda tiga dari Kementerian Sosial (Kemensos). Di bagian belakang motor tersebut, terdapat rak kaca, tempat Saparman menaruh rentengan kopi, susu, teh tarik, tisu bungkus berbagai merek, mi instan cup, serta masker non medis yang disusun dengan rapi.

Sesuai dengan arahan Menteri Sosial Tri Rismaharini, Kemensos mendorong mobilitas penyandang disabilitas dengan membuat alat bantu disabilitas sebanyak 490 unit dengan total nilai Rp 15 miliar.

Sebelum mendapatkan bantuan tersebut, Saparman mengaku berjualan tisu di berbagai sudut jalan arteri Kota Bandung.

"Dulu saya jualan tisu di trotoar, prapatan dan lampu merah di Bandung. Sama sekali tidak ada alat bantu, saya jalan pakai dengkul dan bawa ransel di punggung, sementara di masing-masing tangan saya pegang tiga tisu bungkus untuk ditawarkan ke pengemudi mobil yang lewat di Dago, Braga, dan Leuwipanjang," kenang Saparman.

Karena keterbatasan modal, Saparman menjual tisu dari tengkulak dengan sistem setoran. Penghasilannya pun tidak menentu.

"Dulu pernah sehari saya hanya dapat Rp 3 ribu. Saya cuma bisa bersabar saja, namanya juga jualan," kata bapak dua orang anak ini.

Ia mengaku, sebelum mempunyai motor listrik, harus berganti-ganti moda transportasi untuk berjualan dari satu daerah ke daerah lain. Dengan pendapatan minim, ia merasa bersyukur karena masih banyak orang baik yang membantunya.

"Sopir-sopir angkot enggan menerima ongkos yang saya berikan, malahan saya yang dikasih uang oleh mereka," ujar perantau asal Padang Pariaman ini.

Setelah mendapatkan bantuan motor roda tiga listrik, Saparman beralih profesi menjadi penjaja tisu dan minuman keliling.

"Sehari minimal dapat Rp 45 ribu, paling banyak bisa Rp 80 ribu sampai Rp 120 ribu. Alhamdulillah meskipun nggak tentu, tapi masih cukup untuk makan sehari-hari dan beli stok jualan selanjutnya," kata Saparman.

Karena berjualan keliling Kota dan Kabupaten Bandung, pelanggannya pun tersebar di berbagai tempat. Adek (64), salah satu pelanggan setia Saparman, mengaku sudah mengenal Saparman sejak 2007 saat mereka berdua berjualan di SMPN 1 Baleendah.

"Dulu Pas Abah (Saparman) masih pakai kaki palsu di salah satu kakinya, dia jualan cilok pakai gerobak, sementara saya yang dulu jualan kopi," kata pedagang ayam goreng dan cilok goreng ini.

Adek mengaku kerap membeli kopi susu dari lapak Saparman karena keramahannya. Ia turut senang dengan bantuan ATENSI dari Kemensos yang diterima Saparman.

"Alhamdulillah dengan adanya bantuan ini semoga bisa memudahkan Abah dalam berjualan karena bisa keliling ke mana-mana," kata Adek.

Hal senada juga disampaikan Bima Muhammad Arief (28), pengemudi ojek daring yang beberapa kali membeli dagangan Saparman. Sama-sama memiliki mobilitas tinggi, Bima kerap bertemu dengan Saparman di berbagai lokasi.

"Kalau lagi nongkrong sama pengemudi ojek daring lain, Mas Parman sering lewat sambil nawarin kopi, jadi kami beli kopinya," kata Bima.

Saparman merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Kemensos karena menjadi salah satu penerima bantuan ATENSI berupa motor listrik roda tiga dan modal usaha yang ia terima dari Balai 'Inten Suweno' Cibinong pertengahan Juni lalu.

"Motor ini jadi kaki pengganti saya dalam menyambung hidup dan harapan," ujar Saparman.

Saparman berharap agar bisa menambah modal usaha agar jenis barang yang ia jual di rak motornya bertambah.

"Meskipun fisik saya terbatas, saya tidak akan mundur. Pengalaman pahit di masa lalu sebagai seorang disabilitas tidak menyurutkan semangat saya untuk terus berjualan," kata Saparman dengan optimistis

(prf/ega)