Polisi: dr Lois Bisa Diproses Etik di Organisasi Kedokteran

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 18:05 WIB
dr Lois Owien selesai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya langsung dibawa ke Bareskrim Polsi, Senin (12/7/2021) malam.
dr Lois Owien (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Bareskrim Polri menegaskan kasus dr Lois Owien, yang diduga menyebar hoax COVID-19, terus berjalan walau tidak ditahan. Dirtipidsiber Bareskrim Brigjen Slamet Uliandi menyebut dr Lois juga dapat diproses etik di organisasi profesi kedokteran. Kepada polisi, dr Lois mengaku tidak akan melarikan diri sehingga tidak ditahan.

"Yang bersangkutan menyanggupi tidak akan melarikan diri. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak menahan yang bersangkutan. Hal ini juga sesuai dengan konsep Polri menuju Presisi yang berkeadilan," ujar Slamet melalui pesan singkat, Selasa (13/7/2021).

Slamet yakin dr Lois tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti meski tidak ditahan. Apalagi, kata Slamet, pihaknya telah memiliki seluruh barang bukti dr Lois dalam menyebarkan hoax COVID-19.

"Setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik, kami dapatkan kesimpulan bahwa yang bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatannya dan tidak akan menghilangkan barang bukti mengingat seluruh barang bukti sudah kami miliki," katanya.

Lebih lanjut Slamet menyebut dr Lois dapat diproses lebih lanjut oleh otoritas profesi kedokteran. Slamet mengungkap pernyataan dr Lois selaku orang yang memiliki gelar dan profesi dokter tidak memiliki pembenaran secara otoritas kedokteran.

"Polri memberikan catatan bahwa terduga dapat diproses lebih lanjut secara otoritas profesi kedokteran," kata Slamet.

Slamet menyebut dr Lois juga turut mengakui opini yang dia publikasikan di media sosial tidak berlandaskan riset serta membangun asumsi.

"Dalam klarifikasi dr Lois, ia mengakui bahwa perbuatannya tidak dapat dibenarkan secara kode etik profesi kedokteran," terang Slamet.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap dr Lois, yang belakangan viral karena pernyataan kontroversial soal COVID-19. Karena pernyataannya itu, dr Lois dianggap telah menyebarkan berita bohong kepada masyarakat luas.

"Dokter L telah menyebarkan berita bohong dan/atau menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan rakyat," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan dalam jumpa pers di Mabes Polri yang disiarkan melalui YouTube, Senin (12/7).

Ramadhan menjelaskan dr Lois menyebarkan berita bohong di tiga platform media sosial. Adapun dr Lois terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Tonton video 'Ancaman 10 Tahun Penjara untuk dr Lois yang Jadi Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/yld)