PT Mataram Anulir Hukuman Mati Pemerkosa Bocah hingga Tewas

Andi Saputra - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 16:14 WIB
Palu Hakim Ilustrasi
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Mataram menganulir hukuman mati Padilius Asman (38) menjadi hukuman penjara seumur hidup. Asman terbukti memperkosa seorang anak hingga tewas. Bahkan untuk menyarukan perbuatannya, korban dibuat seolah-olah gantung diri.

Kasus bermula saat Asman pulang ke kosan dari tempat kerja menjaga toko pada 14 Mei 2020 siang. Saat situasi kos-kosan di Kecamatan Rasane Barat, Bima, sepi, Asman mengajak korban yang berusia 11 tahun ke kamarnya.

Asman mulai merayu korban agar mau tidur dengannya tapi menolak. Asman naik pitam dan membekap muka korban dengan bantal. Di saat yang sama, Asman memperkosa korban. Tidak puas, Asman membalikkan badan korban dan melakukan hal serupa.

Ternyata pembekapan itu membuat korban kehabisan napas dan tewas. Asman panik. Ia mengambil pakaian dan mengguntingnya menjadi tali. Dengan tali dari pakaian itu, Asman membuat seolah-olah korban bunuh diri. Asman kembali ke kamar kosnya.

Tidak berselang lama, keluarga korban datang. Tangis terpecah melihat korban sudah meninggal dunia gantung diri. Warga berkerumun dan aparat datang. Awalnya korban dikira meninggal karena gantung diri. Tetapi perlahan kejanggalan terungkap. Asman akhirnya tidak bisa mengelak dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan.

Pada 22 Maret 2021, PN Raba Bima menjatuhkan hukuman mati kepada Asman. Namun hukuman mati itu tidak bertahan lama karena dianulir oleh PT Mataram.

"Menyatakan Terdakwa Pedilius Asman secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan gangguan jiwa. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Pedilius Asman dengan pidana penjara selama seumur hidup," kata ketua majelis Yuli Happysyah dalam putusan yang dilansir website MA, Senin (12/7/2021).

Duduk sebagai anggota majelis Sapawi dengan anggota Amat Khusaeri. Alasan mengubah hukuman mati menjadi hukuman penjara seumur hidup agar Asman mau berubah dan memperbaiki perilakunya.

"Masih diharapkan kepada terdakwa untuk bisa bertobat, menyesali atas perbuatannya dan memperbaiki kelakuannya," ucap majelis.

(asp/knv)