Round-Up

Lipat Ganda Pemakaman Protap Corona di DKI Bukti Situasi Makin Gawat

Tim detikcom - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 06:51 WIB
Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rorotan, Cilincing, Jakarta sudah mulai difungsikan. Tahap awal akan disiapkan sebanyak 1.500 petak makam.
Ilustrasi / TPU Rorotan (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Lonjakan kasus Corona di Indonesia, termasuk Jakarta, belum reda. Kini, angka kematian jadi sorotan. Jumlah orang yang meninggal akibat Corona bertambah terus tanda kondisi makin gawat.

Fakta baru diungkap Pemprov DKI. Dari data yang diunggah di media sosial resmi, jumlah pemakaman dengan protokol COVID-19di DKI Jakarta naik 10 kali lipat. Peningkatan ini dilihat dari data 1 Mei hingga 3 Juli.

"Update Data Pemakaman dengan protokol COVID-19 di DKI Jakarta, 1 Mei - 3 Juli 2021. Beberapa hari terakhir, jumlahnya tercatat meningkat 10x lipat jika dibandingkan pada awal bulan Mei 2021," tulis Pemprov DKI dalam caption tampilan data tersebut.

Masyarakat diimbau terus meningkatkan kewaspadaan penularan Corona. Masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah.

"Teman-teman, mari terus tingkatkan kewaspadaan penularan COVID-19. Jangan lengah dan abai. Tetap disiplin jalankan prokes 5M dan saling ingatkan sesama, saling menjaga. Batasi aktivitas keluar rumah untuk keperluan esensial, ya!" lanjutnya.

Ada yang Meninggal di Rumah

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengungkap data kematian per 2 Juli 2021 mencapai 396 orang. Dari ratusan jenazah yang dimakamkan, 45 orang di antaranya meninggal di kediamannya.

"Dua hari lalu, itu yang meninggal, yang suspect dan positif itu 396 orang dalam sehari. Di mana 45-nya meninggal di rumah, sekitar 10 persennya meninggal di rumah," kata Ngabila di webminar, Minggu (4/7/2021).

Ngabila menduga 45 orang yang meninggal di rumah hanya dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan tes rapid antigen. Mereka, sebutnya, tidak melanjutkan pengetesan PCR.

Akibatnya, petugas pun terlambat dalam menangani warga yang terpapar COVID-19.

"Artinya orang yang mungkin baru rapid antigen dan hasilnya positif atau tiba-tiba dia happy hypoxia, awalnya bagus tiba-tiba saturasi oksigen ada di bawah 85 persen dan dia sesak mendadak dan akhirnya dia meninggal. Ada sekitar 10 persen," jelasnya.