Din: Kritik BEM UI 'Jokowi King of Lip Service' Jangan Disikapi Represif

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 13:48 WIB
Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang digagas sejumlah tokoh dan aktivis seperti Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, Syahganda Nainggolan, dan M Jumhur Hidayat, mengajak masyarakat untuk menghadiri acara deklarasi yang akan digelar pada Selasa, 18 Agustus 2020 di Lapangan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat.
Din Syamsuddin (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Dukungan terhadap BEM UI perihal polemik poster 'Jokowi King of Lip Service' terus berdatangan, salah satunya dari guru besar FISIP UIN Jakarta, Din Syamsuddin. Din menyayangkan sikap rektorat UI yang memanggil pengurus BEM UI terkait hal itu.

"Maka seyogianya rektorat UI tidak menyikapi sikap BEM UI secara represif dan otoriter. Begitu pula pihak yang tidak setuju dengan pandangan BEM UI, sebaiknya ajukan argumen dan fakta tandingan," kata Din Syamsuddin dalam keterangan pers tertulis, Selasa (29/6/2021).

Din menerangkan, unggahan poster 'Jokowi King of Lip Service' itu sejatinya mencerminkan sikap anak muda yang kritis. Karena memang, kata Din, mahasiswa sudah sepatutnya berpikir kritis untuk melihat realitas kehidupan masyarakat yang terjadi saat ini.

"Sikap dan pandangan BEM UI tentang Presiden Joko Widodo sebagai King of Lip Service mencerminkan sikap anak muda kritis. Mahasiswa memang diajari berpikir kritis terhadap realitas kehidupan masyarakatnya. Itu hal biasa di kampus. Justru aneh kalau sivitas akademika kehilangan daya kritis, apalagi cenderung membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar," ungkapnya.

Din mengungkap, sikap BEM UI itu mewakili sikap banyak orang yang tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan aspirasinya. Din menilai sikap BEM UI itu layak dipuji sebagai sikap intelektual sejati.

"Pandangan BEM UI sebenarnya pandangan banyak orang. Namun BEM UI memiliki keberanian moral untuk menyuarakannya. Hal itu harus dipuji, apalagi jika pandangan itu disertai bukti atau argumentasi. Itu sikap intelektual sejati," tuturnya.

Mantan Ketum PP Muhammadiyah itu meminta agar upaya pembungkaman kritik mahasiswa tidak terjadi di lingkungan kampus. Menurut Din, sikap kritis mahasiswa harus terus dibangkitkan dan tidak boleh dimatikan.

"Upaya pembungkaman kritisisme mahasiswa hanya akan membangkitkan kritisisme kampus yang selama ini sesungguhnya tidak mati dan tidak bisa dimatikan," ujar Din.

BEM UI sebelumnya dipanggil rektorat buntut postingan 'Jokowi The King of Lip Service'. UI menyatakan pemanggilan itu merupakan bentuk pembinaan.

"Atas pemuatan meme tersebut di media sosial, Universitas Indonesia mengambil sikap tegas dengan segera melakukan pemanggilan terhadap BEM UI pada sore hari Minggu, 27 Juni 2021. Pemanggilan terhadap BEM UI ini karena menilai urgensi dari masalah yang sudah ramai sejak postingan yang mereka buat di akun sosial media BEM UI. Pemanggilan ini adalah bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan yang ada di UI," kata Kepala Humas dan KIP UI, Amelita Lusia, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (27/6).

Amelita menyatakan UI pada prinsipnya menghormati kebebasan berpendapat. Namun dia mengingatkan mengenai aturan hukum.

"Perlu kami sampaikan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat dan aspirasi memang dilindungi undang-undang. Meskipun demikian, dalam menyampaikan pendapat, seyogianya harus menaati dan sesuai koridor hukum yang berlaku," ujar Amelita.

Sementara itu, jubir Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman, turut merespons soal Jokow 'King of Lip Service'. Fadjroel menyebut segala aktivitas kemahasiswaan merupakan tanggung jawab pimpinan UI.

"Segala aktivitas kemahasiswaan di Universitas Indonesia, termasuk BEM UI, menjadi tanggung jawab pimpinan Universitas Indonesia," kata Fadjroel lewat pesan singkat, Minggu (27/6).

Simak video ''Gelar' untuk Jokowi dari BEM UI dan Aliansi Mahasiswa UGM':

[Gambas:Video 20detik]



(whn/knv)