Corona RI Diprediksi Terus Tinggi Gegara Banyak Kontak Erat Tak Terlacak

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 26 Jun 2021 13:07 WIB
Poster
Ilustrasi aktivitas warga di tengah pandemi COVID-19. (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto mengatakan angka kasus COVID-19 masih akan terus mengalami peningkatan. Hal itu karena masih banyaknya orang yang berkontak erat dengan orang yang positif lepas dari pelacakan (tracing).

"Hari-hari ke depan ini masih akan tinggi, kenapa masih tinggi? Masih sekitar 18, 19, 20 ribu, bahkan lebih," kata Budi saat diskusi virtual Polemik Trijaya bertajuk 'COVID Gawat Darurat' Sabtu (26/6/2021).

Budi menjelaskan hasil tes PCR COVID-19 baru muncul paling lama tujuh hari. Dalam waktu sepekan itu, orang tersebut berpotensi menyebarkan virus karena masih melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan orang lain yang belum terjangkit.

"Kita semua kan tahu pemeriksaan dari PCR, orang tahunya positif itu kan seminggu kemudian. Artinya, mereka yang tercacat 20 ribu itu sebenarnya angka kalau 20 ribu tanggal 23 (Juni), kalau kita rata-ratakan pemeriksaan PCR itu adalah tujuh hari, maka sebetulnya itu data orang yang positif tanggal 17 yang baru ketahuan seminggu kemudian tanggal 24," ujarnya.

"Terkait tracing, mereka-mereka yang dites tanggal 17 itu kan sebenarnya tanggal 16 atau 15 sudah positif, kemudian punya gejala dan sebagainya secara sukarela gejalanya seperti COVID, maka memeriksakan diri pada tanggal 17. Selama setelah di-swab tanggal 17, ke mana saja mereka ini? Mereka kan belum tahu hasilnya, dia bisa saja tetap bekerja, jalan-jalan dengan teman melakukan kegiatan berinteraksi dengan orang lain. Baru seminggu kemudian tanggal 24 dia positif," sambungnya.

Budi menyampaikan orang yang kontak erat dengan yang positif harus dites juga. Tetapi kebanyakan mereka yang positif lupa telah kontak erat dengan siapa saja selama sepekan.

"Mereka yang kontak erat ini yang harusnya dites," ucapnya.

Selanjutnya, pembawa virus terus berkeliaran: