ICW Tak Habis Pikir Jampidsus Kejagung Heran Sunat Vonis Pinangki Diributkan

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 15:31 WIB
Aktivis anti korupsi dari ICW, Kurnia Ramadhana memberikan pernyataan pers di Gedung Dewan Pengawas KPK, Jl Rasuna Said, Jakarta, Jumat (11/6/2021).  Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan pelanggaran kode etik Ketua KPK, Firli Bahuri ke Dewan Pengawas KPK. Dugaan tersebut terkait penggunaan sewa helikopter oleh Firli Bahuri, beberapa waktu lalu. (ARI SAPUTRA/detikcom)
Pegiat ICW Kurnia Ramadhan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) Ali Mukartono mempertanyakan mengapa penyunatan terhadap vonis Pinangki Sirna Malasari terus diributkan. ICW pun tidak habis pikir terhadap sikap Jampidsus itu.

"Pertama, Jampidsus mengatakan media telah membesar-besarkan pemberitaan Pinangki. Penting untuk dipahami oleh Jampidsus bahwa sangat wajar jika publik mempertanyakan perihal penanganan Pinangki di Kejaksaan Agung," kata pegiat ICW Kurnia Ramadhan kepada wartawan, Rabu (23/6/2021).

Kurnia mengatakan, wajar jika publik meributkan pemotongan hukuman terhadap Pinangki. Sebab, selain karena perkara ini melibatkan oknum penegak hukum yang bahu-membahu membantu pelarian buron, irisan lain juga menyasar pada kejanggalan penanganan perkara itu sendiri.

"Mulai dari rencana pemberian bantuan hukum dari Persatuan Jaksa Indonesia, keluarnya surat pedoman pemeriksaan jaksa mesti seizin Jaksa Agung, tidak mendalami keterangan Pinangki ihwal penjamin ketika ia bertemu dengan Joko S Tjandra, hingga enggan untuk melimpahkan penanganan perkara ke KPK. Belum lagi perihal rendahnya tuntutan jaksa penuntut umum kepada Pinangki," papar Kurnia.

Dalam pernyataannya, Jampidsus menyebutkan negara malah untung lantaran mendapatkan mobil dari Pinangki. Bagi ICW, pernyataan ini sangat aneh.

"Tentu pernyataan ini sulit untuk dipahami, terutama dalam konteks logika hukum. Betapa tidak, mobil itu adalah barang sitaan atas tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh Pinangki. Lalu, karena Pinangki tidak bisa menjelaskan asal-usul pembelian mobil tersebut, maka dipandang terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang. Jadi bukan seperti pernyataan Jampidsus yang seolah-olah mengibaratkan Pinangki memberikan mobil secara cuma-cuma ke negara," terang Kurnia.

ICW juga menilai sikap Jampidsus yang menyebutkan 'kenapa yang dikejar publik hanya Pinangki saja' tidak beralasan. Pernyataan itu seakan-akan disampaikan bukan oleh seorang Jampidsus, melainkan masyarakat biasa.

"Sebab, publik sedari awal sudah mendesak adanya pengembangan terhadap pelaku lain. Misalnya oknum penegak hukum yang menjamin Pinangki agar bisa bertemu dengan Joko S Tjandra. Namun, sayangnya, desakan publik itu hanya dimaknai sebagai angin lalu saja oleh Kejaksaan Agung. Tidak hanya itu, Jampidsus bahkan bisa menelisik lebih lanjut soal komunikasi Pinangki dengan Anita Kolopaking perihal kata 'Bapakmu dan Bapakku'," cetus Kurnia.

Pernyataan Jampidsus

Sebelumnya, Ali mempertanyakan mengapa masalah Pinangki terus dikejar atau dipertanyakan ke Kejagung. Padahal, menurut Ali, masih banyak tersangka lain di Kejagung yang perlu diperhatikan.

"Kenapa sih yang dikejar-kejar Pinangki? Tersangkanya banyak, wong tersangkanya itu banyak banget, yang ditanya Pinangki terus, kenapa?" tanya Ali di sela-sela wawancara dengan awak media.

Ali mencurigai wartawan yang mengada-ada dan meributkan vonis 4 tahun penjara bagi Pinangki di tingkat banding.

"Yang menggejolakkan diri siapa, sampeyan-sampeyan kan (wartawan)," kata Ali.

"Kita kan harus memberi kejelasan untuk masyarakat, Pak," timpal wartawan.

"Sudah jelas putusan pengadilan, iya kan! Tersangka kita tunggu yang lain, masih banyak tersangka, itu satu kesatuan, karena itu lima-lima, macam-macamlah, malah dari Pinangki dapat mobil kan negara, ya yang lain kan susah lacaknya ini," jawab Ali.

Lihat Video: Sorotan Vonis Pinangki yang Disunat dari 10 Jadi 4 Tahun Bui

[Gambas:Video 20detik]



(asp/mae)