Pakar: PPKM Mikro Terbukti Gagal, Indonesia Harus PSBB

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 07:40 WIB
Libur panjang ini membuat lalu lintas di jalan protokol di ibu kota sepi. Seperti terlihat di jalan Sudirman, Jakarta.
Ilustrasi, jalanan sepi (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Kasus Corona di Indonesia semakin ganas. Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo menyebut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro yang tengah diterapkan pemerintah terbukti gagal membendung Corona.

"Jangan sekadar main-main dengan istilah 'PSBB', 'penebalan PPKM mikro', dan memang terbukti PPKM mikro gagal kok, kalau mau jujur sih, gagal. Kan sudah berlangsung beberapa bulan tapi malah makin naik kan (kasus Corona), makanya gagal, kenapa tidak diakui saja dalam evaluasi bahwa PPKM mikro tidak efektif," ujar Windhu ketika dihubungi detikcom, Selasa (22/6/2021).

Windhu beralasan konsep PPKM Mikro sudah keliru sejak awal. Ia menyebut zonasi RT/RT tidak efektif.

"Jadi kalau ada 1 RT, terus (tercatat) positif 1 orang. Apa betul cuma 1 orang di RT itu (positif Corona)? Bisa saja 8 kali lipat tapi kita katakan 'oh itu zona kuning jadi orang boleh bergerak itu'. Kan bisa salah?" kritik Windhu.

Pemprov DKI Jakarta telah memberlakukan pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak kemarin. Begini suasana kawasan Thamrin di hari kedua PSBB ketat.Masyarakat di tengah PSBB. (Ari Saputra/detikcom)

Indonesia Harus PSBB

Windhu meminta pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB ini, saran Windhu, diterapkan di tingkat kabupaten/kota atau wilayah aglomerasi (Jabodetabek/Surabaya Raya).

"(Harus terapkan) PSBB di tingkat makro, minimal setingkat kabupaten kota, bahkan kalau beberapa daerah bisa setingkat aglomerasi misalkan Surabaya, Surabaya Raya, termasuk Bangkalan," tegas Windhu.

Dengan begitu, warga yang berada di suatu wilayah tidak diperkenankan pergi ke daerah lain. "Karena adanya PPKM mikro, orang masih boleh melakukan mobilitas terus, hancur negara ini kalau terus kayak begini," lanjutnya.

Windhu menegaskan sejak awal pemerintah harus mengutamakan kesehatan dibanding ekonomi. Beberapa negara lain, seperti Australia, juga mengutamakan kesehatan.

"Harus sejak awal sebetulnya kalau kita betul-betul memang fokus pada kesehatan, kadang-kadang memang ada kenaikan sama kayak di Australia, kadang-kadang naik terus lockdown sebentar tapi tidak masalah. Tapi kalau kita tidak pernah berhasil, kita masih terbelenggu dengan keseimbangan ekonomi dan kesehatan itu kekeliruan yang fatal sejak awal ini tidak bisa ditangani dengan begitu," jelas Windhu.

Melonjak Tembus 2 Juta di Juni

Masuk pada Juni, tambahan kasus Corona per hari tercatat lebih dari 5.000. Kasus tertinggi tercatat terjadi pada Senin (21/6/2021), yakni 14.536 kasus.

Total kasus COVID-19 di RI yang ditemukan sejak Maret 2020 sampai hari ini berjumlah 2.018.113 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 152.686 merupakan kasus aktif.

Pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet, Jakarta, meningkat. Kini Bed Occupancy Rate (BOR) di Wisma Atlet menyentuh angka 80% dari kapasitas normal.Pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet, Jakarta, meningkat. Kini bed occupancy rate (BOR) di Wisma Atlet menyentuh angka 80% dari kapasitas normal. (Rengga Sencaya/detikcom)

Berikut ini pertambahan kasus harian dalam sepekan terakhir:

14 Juni: 8.189
15 Juni: 8.161
16 Juni: 9.944
17 Juni: 12.624
18 Juni: 12.990
19 Juni: 12.906
20 Juni: 13.737
21 Juni: 14.536
22 Juni: 13.668

Simak video 'Kasus Corona Meledak, Apa Beda Lockdown, PSBB dan PPKM Mikro?':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/knv)