Polri Ungkap 4 Akar Masalah Penegakan Hukum di Papua

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 20:42 WIB
Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw
Foto: Polri-Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw
Jakarta -

Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw menjadi pembicara dalam seminar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Seluruh Indonesia (PTMI). Komjen Paulus memaparkan empat akar masalah penegakan hukum di wilayah Papua.

Pemaparan Baintelkam Polri tersebut diurai oleh Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono. Argo menyampaikan pokok-pokok pemikiran mengenai Papua dan segala macan dinamikanya.

"Provinsi Papua mempunyai wilayah yang cukup luas, karakterisnik unik dan memiliki kekayaan alam melimpah. Namun, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua adalah yang paling rendah di Indonesia," kata Irjen Argo dalam keterangan tertulis, Selasa (22/6).

Menurut Argo, sejak Papua kembali kepada pangkuan ibu pertiwi tahun 1963, proses internalisasi nilai-nilai Pancasila belum tuntas. Ditambah dengan adanya akumulasi kekecewaan masyarakat Papua atas terbatasnya pelayanan dalam bidang ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan.

Dia pun merinci 4 aspek yang dinilai krusial sebagai akar permasalahan penegakan hukum di Papua. Di antaranya aspek politik kolonialisme, aspek ekonomi dan kesejahteraan, aspek sosio kultural dan aspek ideologis, serta nasionalisme.

Argo juga menekankan salah satu spesifikasi ancaman kerawanan yang membedakan antara provinsi Papua dengan provinsi lainnya di Indonesia adalah adanya gangguan kamtibmas yang ditimbulkan oleh aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Namun tidak semua wilayah di Papua terjadi kekerasan bersenjata hanya di beberapa Kabupaten antara lain Kabupaten Puncak, Intan Jaya, Nduga dan Mimika," terangnya.


Oleh karena itu, dia mengatakan Polri mengajak mahasiswa dan kalangan pemuda untuk ikut terlibat menjadi pionir dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar. Sekaligus pionir dalam mengikis ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, serta pionir kebangkitan, kemandirian dan kesejahteraan Papua.

Untuk diketahui, webinar tersebut diikuti 100 mahasiswa dari berbagai universitas di DKI Jakarta.

(ega/ega)