Sejarah Kota Jakarta: Mulai Sunda Kelapa hingga Kini

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 12:27 WIB
Jakarta -

Sejarah Kota Jakarta menyimpan kenangan tersendiri di momen perayaan HUT Jakarta ke-494. Bermula dari sekitar abad ke-14, Kota Jakarta melewati fase panjang penuh perjuangan hingga kini ditetapkan sebagai Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).

Sejarah Kota Jakarta: Bermula dari Sunda Kelapa

Melansir dari lama resmi Indonesia.go.id dan wawancara dengan staf Museum Sejarah Jakarta, sejarah kota Jakarta bermula dari nama Sunda Kelapa.

Sekitar abad ke-14, daerah yang kini dinamai DKI Jakarta itu dikenal sebagai Sunda Kelapa, yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Daerah Sunda Kelapa dikenal sebagai kota pelabuhan yang sibuk, di mana kapal-kapal dari pedagang, seperti India, China, Arab, hingga Eropa, bertukar barang komoditas.

Sejarah Kota Jakarta: Berganti Menjadi Jayakarta

Pada 1511, Portugis memasuki wilayah Malaka. Kemudian pada 1522, wilayah Sunda Kelapa diklaim sebagai bagian dari kekuasaannya.

Selang lima tahun kemudian, Fatahillah datang dari Kesultanan Demak untuk mengusir Portugis. Sunda Kelapa berhasil direbut pada 22 Juni 1527 dan diganti namanya menjadi kota Jayakarta. Jayakarta diartikan sebagai kemenangan.

Sejarah Kota Jakarta: Berganti Menjadi Batavia

Pada 30 Mei 1619, Kota Jayakarta dikuasai oleh Pemerintahan Belanda (VOC) di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Kemudian VOC menghancurkan Jayakarta dan membangun kota baru di bagian barat Sungai Ciliwung yang kemudian dinamakan Batavia, yang diambil dari nenek moyang bangsa Belanda, Batavieren.

Pembangunan Batavia didesain layaknya kota-kota di Belanda. Desain bangunan berbentuk blok, masing-masing dipisahkan kanal dan dilindungi benteng dan parit.

Pada 1650, Batavia akhirnya selesai dibangun. Bangsa Eropa tinggal di kawasan Batavia, sementara bangsa Cina, Jawa, dan penduduk asli disingkirkan dari wilayah tersebut.

Nama Batavia terus dipakai selama tiga abad, yakni mulai 1619 hingga 1942.

Sejarah Kota Jakarta: Berubah Jadi Jakarta Tokubetsu Shi

Nama Batavia kembali berubah usai pemerintah Jepang menguasai Indonesia. Dalam 'Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita' (1987) karya lasmijah Hardi, nama Batavia diganti sebagai Jakarta Tokubetsu Shi. Nama tersebut berasal dari bahasa Jepang yang berarti 'jauhkan perbedaan'.

Pergantian nama menjadi Jakarta Tokubetsu Shi bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942.

Sejarah Kota Jakarta: Usai Merdeka

Usai Jepang menyerah pada sekutu dan proklamasi Indonesia digaungkan pada 1945, nama Jakarta Tokubetsu Shi kembali berganti menjadi Jakarta dan menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Menteri Penerangan RIS (Republik Indonesia Serikat) saat itu, yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, menegaskan bahwa sejak 30 Desember 1949 tak ada lagi sebutan Batavia bagi kota tersebut. Nama ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Nama Jakarta kembali dikukuhkan pada 22 Juni 1956 di masa pemerintahan Wali Kota Jakarta Sudiro (1952-1960). Sebelumnya Jakarta masuk Provinsi Jawa Barat.

Pada 1959, Jakarta yang sempat menjadi Kota Praja di bawah wali kota diubah menjadi Daerah Tingkat Satu yang dipimpin oleh gubernur. Gubernur pertamanya adalah Soemarno Sosroatmodjo.

Pada 1961, status Jakarta diubah menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI). Penetapan 22 Juni sebagai hari ulang tahun Jakarta didasari momen Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Hal ini tertuang dalam keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956

Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta ditetapkan melalui PP No 2 Tahun 1961 juncto UU No 2 PNPS 1961.

(izt/imk)