Corona Menggila, Waket MPR Minta Sekolah Tatap Muka Ditunda

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 09:54 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid awalnya mengapresiasi niatan untuk kembali menggelar pembelajaran sekolah tatap muka. Namun, melihat adanya lonjakan kasus COVID-19 akibat varian baru, ia menilai rencana itu harus ditunda atau dijadwal ulang.

"Meski kapasitas siswa yang hadir di sekolah maksimal 50 persen, namun hal yang demikian suatu langkah yang maju di saat pandemi COVID-19. Apalagi proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan protokol kesehatan yang ketat," ujar dia dalam keterangannya, Senin (21/6/2021).

Diungkapkannya, dengan digelarnya pembelajaran tatap muka itu membuat Indonesia terhindar dari 'lost generation' atau hilangnya masa depan generasi penerus bangsa. Sebab sudah setahun lebih anak-anak Indonesia tidak pergi ke sekolah.

Tidak hanya membuat bangsa ini terancam 'lost generation', tak adanya pembelajaran tatap muka juga bisa mengakibatkan anak-anak Indonesia malas belajar dan pergi ke sekolah serta memilih bekerja. Padahal pekerja anak memiliki produktivitas rendah dan diupah ala kadarnya.

"Di tengah bangsa ini mulai membuka kembali sekolah, muncul varian baru COVID-19. Varian ini disebut memiliki daya penularan yang lebih cepat. Akibat varian baru ini menimbulkan lonjakan penularan. Bangkalan, Jawa Timur; Kudus, Jawa Tengah; dan Jakarta merupakan tempat di mana varian baru itu ditemukan," ujarnya.

"Ini membuat rumah sakit-rumah sakit menjadi penuh. Sangat menyedihkan," imbuh Wakil Ketua Umum DPP PKB tersebut.


Alumni PMII itu merasa prihatin dengan munculnya varian baru. Dengan ditemukannya varian baru dan terbuktinya semakin tingginya angka penularan membuat kondisi yang demikian mengancam dari proses pembelajaran tatap muka yang tengah berlangsung.

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu menyarankan agar proses pembelajaran tatap muka yang telah digelar di beberapa sekolah dan daerah ditunda atau dijadwalkan ulang. Meski dalam pilihan sulit, ia menyebut sebaiknya mendahulukan kesehatan daripada yang lain.

"Sebaiknya pembelajaran tatap muka ditunda sampai waktu yang memungkinkan untuk dibuka kembali," tegasnya. Anak-anak Indonesia perlu dilindungi dari wabah Corona. Sebab mereka adalah generasi muda penerus bangsa. Merekalah yang akan menggantikan kita," ujarnya.

Lebih lanjut Jazilul menegaskan menegaskan kita tidak boleh pesimis, pasrah, apalagi putus asa dalam menghadapi pandemi dan munculnya varian baru. Caranya dengan menjalankan protokol kesehatan 5 M dan ikut vaksinasi.

"Ayo kita patuhi dan jalankan protokol kesehatan. Masyarakat jangan ragu-ragu mengikuti vaksinasi yang digelar di puskesmas, balai desa, dan tempat-tempat yang telah ditunjuk," paparnya.


Untuk menciptakan 'herd imunity' atau kekebalan massal, alumni Perguruan Tinggi Ilmu Quran itu mendorong agar pemerintah massif dalam melakukan vaksinasi. Ia yakin vaksinasi yang lebih massif bisa dilakukan oleh pemerintah sebab saat ini di Indonesia vaksin yang ada tidak hanya satu merek atau jenis.

"Bila pemerintah massif dan mempercepat vaksinasi kepada masyarakat, lorong gelap yang selama ini mengukung masyarakat karena pandemi COVID-19 akan bisa dilalui. Ayo pemerintah percepat dan massifkan vaksinasi," pungkasnya.

Simak juga 'Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jakarta Disetop!':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)