Orasi di Webinar PA GMNI, Guntur Soekarno Kritisi Penanganan Pandemi

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 22:53 WIB
Guntur Soekarnoputra
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Putera sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) jelang Kongres IV PA GMNI. Guntur menyampaikan orasi kebangsaan bertajuk 'Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman'.

Dalam orasinya, Jumat (18/6/2021), Guntur menyampaikan pemerintah harus bersikap tegas dalam segala hal, terutama dalam mengatasi pandemi COVID-19 saat ini. Menurut Guntur, Presiden Joko Widodo harus menjalankan ajaran Bung Karno 'ambeg parama arta' yang berarti, pandai-pandai memilih hal utama dan terpenting yang harus dikerjakan lebih dahulu, dan menunda pekerjaan yang kurang penting.

''Paling tidak Indonesia harus menang menghadapi pandemi COVID-19. Presiden harus tegas memilih, kesehatan atau penyelamatan ekonomi. Kesehatan harus didahulukan sebelum masalah ekonomi. Tidak apa-apa jika dianggap tidak berhasil membangun perekonomian negara asal seluruh rakyat sehat dulu, selamatkan dulu rakyat dari keganasan virus Corona,'' urai Guntur.

Menurut Guntur, siapapun Presiden RI harus tampil kuat dan tegas dalam mengendalikan negara seluas Republik Indonesia. Ia mendorong pemerintah bersikap lebih tegas, seperti yang dilakukan Bung Karno di awal kemerdekaan.

''Saya menyayangkan pemerintah hanya memberi imbauan agar masyarakat tidak mudik saat lebaran lalu. Mestinya langsung saja pemerintah melarang mudik sebab mudik sekarang terbukti menjadi pemicu meningkatnya COVID-19. Jangan takut dituduh otoriter, buat apa jadi pemerintah kalau tidak boleh memerintah, toh virus Corona itu juga bersikap otoriter pada kita,'' kata Guntur mengkritisi.

Penulis buku 'Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Mulai Asian Games 1962 di Jakarta Sampai ke Galaxy Bima Sakti' itu turut menyinggung modernisasi pertahanan negara yang dinilainya tertinggal dibanding negara-negara tetangga, seperti Singapura.

''Pertahanan negara sangat penting dan karena itu harus dimodernisasi, terutama di bidang kelautan dan dirgantara. Musuh kita adalah neokolonialisme yang harus kita hadapi bersama,'' papar Guntur.

Pria yang menjadi anggota komunitas pengamat Unidentified Flying Object (UFO) itu tidak secara eksplisit menunjuk contoh neokolonialisme yang dia maksud. Tapi, ia menyampaikan kesangsiannya terkait banyak sekali kuliner dari negara kapitalis Barat dibiarkan bertumbuhan di Indonesia, menggerus kuliner asli Indonesia seperti Ayam Goreng Mbok Berek, Warung Padang dan lain-lain.

''Coba renungkan, apakah benar-benar diperlukan produk-produk makanan Barat itu di negeri kita. Mestinya kita membela tumbuhnya produk kuliner dalam negeri, mestinya kita membela produk dalam negeri dalam bentuk apa pun itu,'' sebut Guntur.

Di sisi lain, Guntur mengaku senang generasi muda Indonesia bersemangat membela Palestina, seperti yang dilihatnya dari sejumlah demonstrasi menyerukan dukungannya. Guntur memandang hal itu menjadi cerminan masih bergeloranya spirit Bung Karno yang anti kolonialisme di dada generasi muda.

Namun, pria yang menggemari fotografi ini mengajukan kritik kurangnya disiplin anak bangsa dalam mengatasi pandemi COVID-19.

''Kalau kita hendak membela bangsa lain, urusan dalam negeri harus kita selesaikan dulu. Disiplinkan diri kita, perkuat mentalitas dan jiwa gotong-royong kita, barulah setelah itu kita bisa lebih kuat membela bangsa lain dari penjajahan di muka Bumi,'' pesan Guntur.

Dalam dialog yang dipimpin oleh Karyono Wibowo itu, sejumlah senior alumni GMNI tampil memberikan respon pada orasi Guntur, antara lain Theo Sambuaga, Arief Hidayat (Ketua Mahkamah Konstitusi) dan lainnya.

Karyono menyampaikan karena Kota Bandung yang akan menjadi tempat penyelenggaraan Kongres IV PA GMNI dinyatakan Siaga 1 COVID-19, agenda yang harusnya dilaksanakan tanggal 21-23 Juni 2021 ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Persatuan Alumni (PA) GMN Ahmad Basarah tampil membuka Webinar kedelapan PA GMNI yang menghadirkan Orasi Kebangsaan Guntur Soekarnoputra tersebut. Basarah mengatakan, PA GMNI telah mengundang 49 narasumber dari berbagai spektrum keilmuan dan kalangan untuk menambah khazanah pemikiran menjelang Kongres IV PA GMNI.

''Pak Guntur Soekarno atau lebih populer dipanggil Mas Tok sengaja kami siapkan sebagai pembicara rangkaian Webinar pra kongres ke IV PA GMNI agar semua peserta kongres dan keluarga besar alumni GMNI mendengar langsung pemikiran dan pandangan putra sulung Bung Karno tersebut sekaligus mengobati kerinduan mereka kepada Mas Tok yang memang jarang sekali muncul di publik secara langsung,'' ungkap Basarah.

(akn/ega)