Ilmuwan Ingatkan Tetap Jaga Prokes Meski Sudah Divaksin

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 13:55 WIB
BNPB
Foto: BNPB
Jakarta -

COVID-19 sudah mulai bermutasi di beberapa negara, termasuk ke Indonesia. Pemberian vaksin sendiri dianggap menjadi solusi paling tepat untuk mengurangi jumlah kasus COVID-19.

Wakil Kepala Lembaga Eijkman Bidang Penelitian Fundamental, Prof Herawati Sudoyo menerangkan, sebagian besar produsen vaksin COVID-19 mencoba mencapai tingkat efikasi hingga 70 persen. Sampai saat ini, penelitian menunjukkan tidak ada satupun vaksin COVID-19 yang tidak efektif dalam menangkal mutasi virus tersebut.

"Kendati begitu, memang ada penurunan efikasi saat vaksin COVID-19 melawan mutasi virus COVID-19 ini. Namun hal itu tidak mengurangi makna perlindungan yang diberikan vaksin COVID-19 itu sendiri," terang Prof Herawati, dikutip dari situs covid.go.id, Jumat (18/6/2021).

Terkait upaya pemerintah dalam menyukseskan program vaksinasi, Prof Herawati terus mendorong para Ilmuwan untuk perlu berbicara demi meluruskan informasi-informasi yang keliru dengan menegakkan bukti dan data-data ilmiah.

"Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) akibat vaksinasi COVID-19, misalnya. Hanya terjadi di berapa persen dari sekian juta orang yang sudah divaksinasi. Akan tetapi hal-hal kecil inilah yang masuk pemberitaan dan menjadi besar. Saya pikir di sinilah porsi ilmuwan berbicara dengan data-data," ungkap Prof Herawati.

Walau begitu Prof Herawati menambahkan, protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan untuk mengalahkan COVID-19. Pasalnya, terdapat virus baru yang sudah bertransmisi secara lokal.

"Saya kira kalau kita bisa bekerja sama dengan baik, semua masalah mengenai vaksinasi bisa teratasi. Kalau seandainya semua sudah divaksinasi, sekali lagi kita harus mengingatkan vaksin bukan satu-satunya cara untuk mengalahkan virus ini. Jadi yang sudah mulai longgar protokol kesehatannya karena adanya program vaksinasi harus kita perketat protokol kesehatan kita lagi karena adanya mutasi virus baru yang sudah bertransmisi lokal," tambahnya.

Sedangkan Communication Specialist UNICEF, Rizky Ika Safitri, menyarankan dengan melakukan komunikasi yang mudah dipahami, masyarakat akan turut membantu mensukseskan program vaksinasi.

Vaksin COVID-19 sendiri tetap diupayakan untuk hadir oleh pemerintah melalui berbagai jalur. Juru Bicara Vaksinasi Bio Farma Bambang Heriyanto mengungkapkan, hingga akhir 2021, produsen vaksin seperti Sinovac sudah memberikan komitmen mengirimkan vaksin yang akan didatangkan dari jalur kerja sama multilateral atau fasilitas COVAX yang sudah datang sebanyak 8 juta dosis.

"Kemudian kita juga punya sumber lain dari perjanjian bilateral dengan AstraZeneca dengan komitmen sebesar 50 juta, Novavac 50 juta, dan apabila dari COVAX kita bisa mendapatkan komitmen hingga 20% dari jumlah penduduk, kita bisa mencukupi kebutuhan dosis vaksin untuk herd immunity," pungkas Bambang.

(ega/ega)