Jaksa Bisa Borgol Adelin Lis Saat Pesawat Masuki Wilayah Indonesia

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 16:19 WIB
Adelin Lis (Antara Foto)
Adelin Lis (Antara Foto)
Jakarta -

Guru besar hukum internasional dari UI, Prof Hikmahanto Juwana, berbicara terkait deportasi yang akan dilakukan terhadap terpidana kasus pembalakan liar Adelin Lis. Hikmahanto menyampaikan analisa terkait kepulangan Adelin Lis.

Rektor Universitas Jenderal A Yani itu mengatakan Adelin lis dipulangkan ke RI akibat pelanggaran keimigrasian Singapura karena menggunakan nama Hendro Leonardi di paspornya. Adelin Lis dihukum Pengadilan Singapura dengan denda US$ 14 ribu dan dideportasi ke Indonesia. Oleh karena itu, kepulangan Adelin Lis merupakan proses deportasi, bukan ekstradisi.

"Dalam konteks ini, dikembalikannya Adelin Lis bukan karena kejahatan yang dilakukan di Indonesia di mana pemerintah Indonesia meminta ke Singapura untuk memulangkan Adelin Lis," ujar Hikmahanto dalam rilisnya, Kamis (17/6/2021).

Sementara itu, pihak keluarga Adelin Lis meminta agar dapat memulangkan sendiri Adelin Lis ke Indonesia, namun ditolak kejaksaan. Hikmahanto menilai langkah tersebut tepat karena dikhawatirkan terpidana kasus pembalakan liar itu akan kembali melarikan diri seperti pada 2006 di Beijing, Cina.

"Benar yang disampaikan oleh Jaksa Agung agar Adelin Lis dipulangkan oleh Kejaksaan Agung. Hal ini untuk mencegah Adelin Lis dengan pesawat yang mungkin disewa oleh keluarga tidak menuju Indonesia malah ke negara lain," ujarnya.

Lebih lanjut, karena Adelin Lis di deportasi dengan pesawat komersial, Hikmahanto menyarankan agar Kejaksaan Agung menyewa pesawat komersial. Hal itu bertujuan memastikan Adelin Lis tiba di Indonesia.

"Memang Kejagung mungkin harus menyewa pesawat komersial namun ini penting dilakukan untuk memastikan kepulangan Adelin Lis ke Indonesia," ungkapnya.

Karena pemulangan buron lebih dari 10 tahun itu bukan proses ekstradisi, maka Adelin Lis baru dapat di borgol pada saat pesawat telah memasuki wilayah udara Indonesia.

"Pada saatnya nanti berbeda dengan proses ekstradisi dimana buron dalam keadaan diborgol dalam proses handing over (penyerahan), dalam proses deportasi pada waktu dijemput oleh aparat Kejagung, maka Adelin Lis tidak dalam keadaan diborgol. Adelin Lis akan diborgol saat pesawat memasuki wilayah udara Indonesia," ungkapnya.

"Hal ini karena di Indonesia dan berdasar hukum Indonesia Adelin Lis melakukan kejahatan dan karenanya otoritas Indonesia berhak melakukan penangkapan dan pemborgolan," sambungnya.

Sementara itu, apabila otoritas negara Singapura tidak mengizinkan pesawat sewaan dari Kejaksaan, Adelin Lis tetap bisa dipulangkan dengan pesawat komersial dengan tujuan Jakarta. Kemudian ada aparat penegak hukum yang berada di kursi penumpang tersebut dan pada saat telah berada di wilayah udara Indonesia dapat memborgol Adelin Lis.

"Nanti ada aparat Kejaksaan yang duduk sebagai penumpang. Setelah memasuki wilayah udara Indonesia barulah aparat Kejaksaan melaksanakan tugas untuk menangkap dengan memborgol Adelin Lis sampai di Jakarta," ujarnya.