Kemenkop & ISMI Teken MoU Pengembangan Koperasi & UMKM dengan Iptek

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 22:47 WIB
Kemenkop dan ISMI
Foto: Kemenkop UKM
Jakarta -

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) menjalin kerja sama dengan Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) bagi UMKM. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, saat ini Koperasi dan UMKM dituntut untuk dapat beradaptasi dengan memanfaatkan perkembangan Iptek, inovasi dan kreativitas.

"Saya memberikan apresiasi kepada Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia atas terlaksananya kegiatan Silaturahmi Bisnis ke-12 di Aceh dan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kementerian Koperasi dan UKM tentang Pengembangan Teknologi Inovasi dan Kewirausahaan Bagi Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah," ungkap Teten dalam keterangan tertulis, Rabu (16/6/2021).

Hal tersebut disampaikan usai membuka Silaturahmi Bisnis Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (Silabis ISMI) ke-12 di Banda Aceh secara daring. Di kesempatan tersebut, Sekretaris Kemenkop UKM Arif Rahman Hakim pun menegaskan sinergi antara pemerintah dan para pakar yang tergabung dalam ISMI diperlukan untuk mengakselerasi pelaksanaan program pemberdayaan dan pengembangan koperasi dan UKM.

Di tahun ini, Arif menyebut pihaknya telah menargetkan 2,5 juta sektor informal untuk bertransformasi ke sektor formal. Selain itu, Kemenkop UKM mendukung perluasan ekspor bagi para UKM unggulan.

"Tahun ini, Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan 2,5 juta sektor informal untuk bertransformasi ke formal. Melalui kemudahan perizinan, sertifikasi, standardisasi dan pemasaran diharapkan usaha mikro sebagai ekonomi subsisten yang menyerap kurang lebih 97% lapangan pekerjaan mampu bertahan dan tetap produktif," ungkapnya.

"Sedangkan dari sektor usaha kecil dan menengah, kami mendorong peningkatan kontribusi ekspor ke level 15,2% di tahun ini. Dalam hal ini, peran konsolidator, agregator dan enabler sangat kami butuhkan untuk memperluas pasar ekspor produk UKM unggulan yang saat ini mulai kembali menggeliat," imbuhnya.

Menurut Arif, peningkatan rasio kewirausahaan juga perlu dilakukan jika ingin membuat Indonesia menjadi negara maju. Oleh karena itu, pihaknya menargetkan untuk mencetak 100 koperasi modern di tahun 2021.

"Di 2021, kami menargetkan sebesar 3,55%. Tak kalah penting, di tahun 2021 mampu melahirkan 100 koperasi modern terutama koperasi di sektor pangan," katanya.

Sementara untuk memperluas pasar produk UMKM dan koperasi, Arif mengatakan 40% anggaran belanja kementerian dan lembaga perlu dialokasikan untuk membeli produk UMKM dan koperasi.

Dalam hal ini, para pelaku UMKM perlu meningkatkan kualitas produknya sehingga dapat memenuhi pesanan. Di samping itu, keberadaan pendamping maupun kurator juga sangat diperlukan untuk mendampingi para pelaku UKM dan koperasi memproduksi barang.

"Tentu target-target besar ini tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi dengan berbagai pihak. Pendampingan dan pemberdayaan berkelanjutan, riset-riset yang produktif, serta peningkatan literasi dan pengetahuan Koperasi dan UMKM adalah sumbu kemajuan," katanya.

Oleh karena itu, Arif berharap kerja sama Kemenkop UKM dengan ISMI melalui program Teknologi dan Inovasi Kewirausahaan (Teknosan) mampu menjadikan UKM naik kelas. Kerja sama ini juga diharapkan dapat melahirkan koperasi modern yang berfungsi sebagai agregator bagi UMKM.

Sementara itu, Ketua Umum ISMI llham Akbar Habibie menilai struktur perekonomian Indonesia masih belum seimbang. Saat ini, menurut Ilham, terlalu banyak jumlah pengusaha UMKM, yang jumlahnya mencapai minimal 95 persen dari seluruh sektor lapangan usaha.

"Saya melihat perlu ada keberpihakan, perlu lebih banyak berjuang untuk pengusaha kecil yang khususnya muslim, karena itulah ISMI didirikan," katanya.

Ilham menjelaskan UMKM memiliki satu kelemahan, yakni tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam berinovasi. Padahal, inovasi dapat memberi nilai tambah pada produk sehingga bernilai lebih mahal.

"Yang dimaksud di sini adalah produk yang unggul, yang memiliki nilai tambah atau value added. Bahan baku atau materi boleh sama namun yang satu ada nilai tambah, sehingga harganya lebih mahal. Memberikan nilai tambah ini kata kuncinya adalah teknologi, dengan masuknya teknologi inovasi, suatu produk bisa menjadi sesuatu yang canggih dan bernilai lebih mahal" kata Ilham.

Oleh karena itu, pihaknya menghadirkan Teknosan dalam rangka membuat produk UMKM berkelanjutan melalui kombinasi teknologi, inovasi dan wirausaha. Selain itu, ISMI berupaya bekerja sama dengan berbagai stakeholder seperti Kemenkop UKM hingga perguruan tinggi untuk memperkuat teknologi inovasi dan kewirausahaan di kalangan UMKM, khususnya yang tergabung dalam ISMI.

"Nah, kami selalu menekankan dan mengkombinasikan yang dinamakan Teknosan, yaitu kombinasi antara teknologi, inovasi dan kewirausahaan. Wirausaha, itu intinya kan usaha yang tujuannya agar produk ini bisa berkesinambungan atau berkelanjutan. Dan dengan memperkuat UMKM juga bisa meningkatkan lapangan pekerjaan untuk lebih banyak orang," paparnya.

Di sisi lain, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan Banda Aceh memiliki wilayah yang tidak terlalu luas dibanding kota lain di Provinsi Aceh. Namun, sektor perdagangan di Banda Aceh yang mayoritas pelakunya UMKM mampu tumbuh dalam beberapa tahun terakhir ini.

"Dengan luas hanya 61 km dan penduduk 260 ribu jiwa, perekonomian Banda Aceh kebanyakan dari sektor perdagangan dan wisata," katanya

"Pada 2017 jumlah UMKM di Kota Banda Aceh baru 8.551, pada saat ini sudah tumbuh menjadi 15.500 unit atau naik 82 persen dalam rentang waktu empat tahun," imbuhnya.

Sebagai kota wisata, Banda Aceh juga memiliki banyak destinasi wisata. Salah satunya Masjid Raya Baiturrahman yang pada 2018 meraih anugerah sebagai pesona wisata halal di Indonesia. Ada pula Museum Tsunami yang mendapatkan penghargaan sebagai pesona wisata unik se-Indonesia.

Tak hanya itu, Aceh juga memiliki wisata kuliner yang populer, seperti halnya kopi. Aminullah pun mengatakan pihaknya berencana untuk mempopulerkan kopi Aceh melalui kontes.

"Untuk kulinernya, masakan Aceh sudah diakui sangat enak, demikian juga dengan kopinya yang sudah terkenal. Dan untuk lebih mempopulerkan kopi Aceh, kami berencana menggelar kontes kopi di Banda Aceh," pungkasnya.

Sebagai informasi, turut hadir dalam kesempatan itu Staf Ahli Menkop UKM Luhur Pradjarto, Bupati Aceh Barat Daya Akmal Ibrahim, Ketua ISMI Provinsi Aceh Nurkholis, dan peserta Silabis dari Selindo.

(ncm/ega)