BNPB Laporkan 1.423 Bencana Alam Terjadi Hingga 15 Juni

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 04:03 WIB
Seorang anak bermain di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (17/5/2021). BMKG mengingatkan fenomena gerhana bulan total atau Super Blood Moon berpengaruh terhadap kondisi pasang air laut maksimum.
Ilustrasi banjir (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.423 kejadian bencana alam terjadi di Tanah Air dalam rentang waktu 1 Januari hingga 15 Juni 2021. Bencana alam terbanyak terjadi yakni banjir, diikuti puting beliung dan tanah longsor.

Dilansir Antara, Rabu (16/6/2021), adapun rinciannya yakni banjir 592 kejadian, puting beliung 394 kejadian, tanah longsor 288 kejadian, Karhutla 108 kejadian. Kemudian gelombang pasang dan abrasi 20 kejadian, gempa bumi 19 kejadian, dan kekeringan 2 kejadian

Dari seluruh bencana alam itu sebanyak 5.306.534 orang terdampak dan mengungsi, sebanyak 493 jiwa meninggal dunia, 68 hilang, serta 12.853 jiwa luka-luka.

Sementara itu, bencana alam tersebut mengakibatkan 135.187 unit rumah rusak yang terdiri atas 14.693 unit rumah rusak berat, 22.483 unit rumah rusak sedang, dan 98.011 rumah rusak ringan.

BNPB juga mencatat ada sebanyak 2.920 fasilitas umum rusak yang meliputi 1.367 fasilitas pendidikan, 1.207 fasilitas peribadatan, dan 346 fasilitas kesehatan. Kemudian, sebanyak 492 kantor dan 282 jembatan mengalami kerusakan.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi sekaligus Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Raditya Jati meminta masyarakat untuk tetap waspada dan siaga akan berbagai potensi bencana.

Terkait bencana hidrometeorologi, BNPB meminta masyarakat untuk memperhatikan prakiraan cuaca yang diinformasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Potensi bahaya lain yaitu gempa bumi yang dapat terjadi setiap saat. Di samping itu, ancaman bahaya lain yaitu pandemi COVID-19 yang masih terus terjadi penularan di tengah masyarakat," katanya.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk melakukan mitigasi dalam menghadapi sejumlah potensi bahaya tersebut. Masyarakat mesti mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko di sekitar.

Masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi, seperti InaRISK, Info BMKG, Magma Indonesia untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko.

"Setiap keluarga memiliki tingkat risiko yang berbeda, seperti parameter anggota keluarga, topografi di sekitar rumah, kekuatan bangunan, atau pun tata ruang rumah," ujarnya.

Simak juga 'Kepala BNPB Ungkap Faktor Melonjaknya Kasus Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/eva)