Unilever Olah 16.300 Ton Sampah Plastik di 2020

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 19:22 WIB
Unilever
Foto: Alfi Kholisdinuka
Jakarta -

Sampah plastik kerap menjadi masalah utama dalam pencemaran ekosistem lingkungan baik tanah maupun laut. Sifatnya yang tidak mudah terurai secara alami hingga ratusan tahun, bisa jadi ancaman bagi kelestarian lingkungan.

Hal ini tentu menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk industri. Menurut Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk Nurdiana Darus, industri bisnis seharusnya mampu menjadi bagian dari solusi atas permasalahan yang dihadapi dunia.

"Unilever Indonesia siap lebih banyak berperan dalam mendukung pemerintah dalam menanggulangi permasalahan sampah plastik ini," ujarnya dalam webinar #GenarasiPilahPlastik di detikcom, Selasa (15/6/2021).

Menurutnya, paling lambat pada 2025 perseroan secara global akan mengurangi setengah dari penggunaan virgin plastik atau plastik baru. Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan kemasan plastik sebanyak lebih dari 100 ribu ton dan mempercepat penggunaan plastik daur ulang.

"Selain itu, Unilever juga akan terus membantu mengumpulkan dan memproses lebih banyak kemasan plastik daripada yang dijualnya," ungkapnya.

Dia menuturkan upaya itu akan dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir rantai bisnis perseroan. Adapun untuk hulu, pihaknya mengembangkan dan menerapkan inovasi desain kemasan produk yang ramah lingkungan. Sementara di tengah, perseroan melakukan edukasi untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dengan mengumpulkan sampah pasca konsumsi ke bank sampah.

Adapun di hilir, pihaknya mendorong upaya daur ulang sampah plastik agar memiliki nilai ekonomi, salah satunya melakukan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) untuk mengumpulkan dan memproses sampah plastik menjadi energi terbarukan.

"Alhamdulillah, dari rangkaian itu secara total, di tahun 2020 kami telah berhasil mengumpulkan dan memproses lebih dari 16.300 ton sampah plastik. Itu terdiri dari hulu, pemrosesan melalui upaya penggunaan kemasan daur ulang sebanyak 68 ton," ucapnya.

"Sementara di tengah itu, pengumpulan sampah plastik dari jaringan bank sampah sebanyak 13.200 ton. Terakhir hilir, pemrosesan sampai melalui teknologi RDF sebanyak 3.070 ton," pungkasnya.

(mul/ega)