Mengenal Miqat Makani dan Batasnya dalam Ibadah Haji

Rahma I Harbani - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 14:05 WIB
haji
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Sebelum memulai pelaksanaan ibadah haji dan umrah, perlu diketahui salah satu istilah penting dalam pelaksanaannya adalah miqat makani. Apa itu miqat makani?

Pengertian Miqat Makani

Dalam buku yang bertajuk Miqat di Jeddah Tidak Sah? karya Luki Nugroho, Lc kata miqat berasal dari bahasa Arab yang berbentuk jamak yaitu mawaq. Kata ini mengandung arti tempat atau waktu.

Sementara itu arti miqat secara harfiah yang dikutip dari buku Peta Perjalanan Haji Dan Umrah karya Guz Arifin, miqat adalah garis demarkasi atau garis batas antara boleh atau tidak, atau perintah mulai atau berhenti, yaitu kapan mulai melafadzkan niat dan maksud melintasi batas antara tanah biasa dengan Tanah Suci (Tanah Haram).

Berdasarkan pengertian di atas, oleh sebab itu dikenal dua jenis miqat dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah, yaitu, miqat zamani dan miqat makani. Pembahasan kali ini akan berfokus pada penjelasan tentang miqat makani.

Melansir dari Tuntunan Manasik Haji dan Umroh Kementerian Agama Tahun 2020, miqat makani adalah batas tempat untuk memulai ihram haji atau umrah.

Adapun mengenai lokasi dilaksanakannya miqat makani, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Rasululah SAW bersabda:

"Miqat-miqat itu adalah untuk penduduk tempat tersebut dan orang yang melewatinya ketika hendak melaksanakan haji atau umrah," (HR. Bukhari di dalam Shahih Bukhari, kitab al-Hajj)

Selain itu, dalam hadits riwayat lain juga disebutkan mengenai lokasi atau tempat-tempat yang ditentukan sebagai miqat oleh Rasulullah SAW. Bunyi hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA adalah sebagai berikut:

"Dari Ibnu Abbas RA berkata, "Rasulullah SAW menetapkan miqat bagi penduduk Madinah adalah Zulhulaifah, bagi penduduk Syam adalah Ju'fah, bagi penduduk Najd adalah Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam." Nabi bersabda, "Itu lah miqat bagi mereka dan bagi siapa saja yang datang di sana yang bukan penduduknya yang ingin haji dan umrah, bagi yang lebih dekat dari itu (dalam garis miqat), maka dia (melaksanakan) ihram dari kampungnya, sehingga penduduk Makkah ihrāmnya dari Makkah." (HR. Muslim dari Ibnu 'Abbas RA).

Berdasarkan kedua dalil di atas, dapat ditentukan tempat berihram haji atau umrah sebagai sejumlah tempat untuk miqat bagi penduduk dan setiap orang yang melewatinya walaupun bukan termasuk penduduknya.

Lokasi Miqat Makani

Lima lokasi miqat makani di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Zulhulaifah (Bir Ali), tempat mīqāt-nya bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya;

2. Juhfah, mīqāt-nya penduduk Syam dan yang melewatinya;

3. Qarnul Manazil (as-Sail), mīqāt-nya penduduk Najad dan yang melewatinya;

4. Yalamlam, mīqāt-nya penduduk Yaman dan yang melewatinya; dan

5. Zatu Irqin, mīqāt-nya penduduk Iraq dan yang melewatinya.

Masih mengutip dari buku tuntunan milik Kementerian Agama, lokasi miqat makani bagi jemaah haji Indonesia gelombang I yang datang dari Madinah adalah Zulhulaifah (Bir Ali).

Sementara itu, bagi jemaah haji Indonesia gelombang II yang langsung ke Makkah, miqat makani dilakukan di atas udara sejajar dengan Yalamlam/Qarnul Manazil.

Apabila hal itu dianggap sulit, miqat makani dapat dilaksanakan di Asrama Haji Embarkasi atau setelah sampai di Bandar Udara internasional King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah.

(nwy/nwy)