Perilaku Nabi Ibrahim yang Perlu Diteladani terkait Akidah

Kristina - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 18:45 WIB
Nabi Ibrahim
Foto: llustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta -

Nabi Ibrahim AS adalah suri tauladan dalam hal akidah. Ia tetap berpegang teguh pada ajaran Allah SWT, sekalipun ayahnya seorang penyembah berhala.

Dalam beberapa Sirah Nabawiyah, Nabi Ibrahim AS termasuk rasul ulul azmi. Dia memiliki ketabahan yang luar biasa. Mulai dari harus dibakar hingga harus mengorbankan putranya sendiri untuk menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS juga mendapat julukan ayahanda para nabi (Abul Anbiya). Ia melahirkan nabi-nabi setelahnya seperti Nabi Ismail AS, Nabi Ishak AS, dan Nabi Yakub AS hingga anak turunan mereka.

Salah satu perilaku Nabi Ibrahim AS yang perlu diteladani dalam hal akidah adalah tidak menyekutukan Allah SWT. Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Katsir, pada suatu ketika Nabi Ibrahim AS mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa seluruh benda langit baik bintang, bulan, maupun matahari ditundukkan dan digerakkan oleh satu kekuasaan, yakni Allah SWT.

Diawali saat ia melihat munculnya bintang-bintang di malam hari. Ia menjelaskan kepada kaumnya bahwa bintang-bintang yang tampak bersinar terang tersebut tidak layak untuk dijadikan Tuhan. Sebab, seluruh benda-benda tersebut adalah makhluk yang diciptakan, diatur, dan ditundukkan oleh Tuhan yang menciptakannya.

Beberapa pendapat mengatakan bintang yang dimaksud bernama Lucifer (Bintang Fajar). Benda-benda tersebut bisa hilang dan lenyap sewaktu-waktu. Akan tetapi Tuhan tidak akan hilang walau dalam sekejap.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim AS menjelaskan kepada kaumnya tentang sosok bulan yang lebih besar dan terang cahayanya dibandingkan dengan bintang. Selanjutnya, pada pagi hari muncullah matahari dengan sinar jauh lebih terang dari benda-benda langit lainnya.

Hingga akhirnya, bertemulah pada satu titik kesimpulan bahwa, seluruh benda tersebut digerakkan oleh Yang Maha Kekal. Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.

"Beliau menjelaskan bahwa semua benda itu ada yang menundukkan, menggerakkan, dan mengendalikan berdasarkan kekuasaan Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT QS.Fussilat ayat 37," terang Ibnu Katsir dalam bukunya seperti dikutip, Senin (14/6/2021).

Allah SWT berfirman dalam QS. Fussilat ayat 37 sebagai berikut:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika kamu hendak menyembah-Nya." (QS. Fussilat: 37).

Nabi Ibrahim AS juga mengingatkan ayahnya untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ayahnya yang bernama Azar tidak menghiraukannya. Dia termasuk orang-orang yang berada dalam kesesatan.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari yang berasal dari Ibnu Abu Dzi'ib, dari Sa'id al Maqbari, dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW, bersabda: "Ibrahim bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari Kiamat nanti. Ketika itu wajah Azar tampak hitam berdebu.

Lalu Ibrahim berkata kepada ayahnya: 'Bukankah sudah aku katakan kepada ayah agar ayah tidak menentang aku?' ayahnya menjawab: 'Hari ini aku tidak akan menentangmu.' Kemudian Ibrahim berkata: 'Wahai Tuhan, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari berbangkit. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan ayahku yang jauh (dariku)?' Allah SWT berfirman: 'Sesungguhnya, Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.' Lalu dikatakan kepada Ibrahim: 'Wahai Ibrahim, apa yang ada di kedua kakimu itu?' Ibrahim pun melihatnya dan ternyata ada seekor anjing hutan yang kotor. Lalu anjing itu dipegang kaki-kakinya dan segera dilempar ke dalam neraka." (HR. Bukhari).

Dalam menunjukkan kepada kaumnya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Nabi Ibrahim AS menghancurkan seluruh patung berhala yang disembah kaum Kaldan. Dari seluruh berhala yang ada, ia hanya menyisakan satu berhala yang paling besar.

(nwy/nwy)