Kondisi Terkini Eks Bupati Sri Wahyumi Usai Emosi Berhari-hari di Rutan KPK

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 16:31 WIB
Jakarta -

Mantan Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip sempat emosional berhari-hari setelah ditangkap lagi oleh KPK pada hari yang sama saat bebas dari penjara. Bagaimana kondisinya saat ini?

Pengacara Sri Wahyumi, Teguh Samudera, mengatakan dirinya sudah beberapa kali bertemu dengan Sri Wahyumi di rutan KPK. Dia mengatakan emosi Sri Wahyumi saat ini sudah stabil.

"Iya, sudah redalah (emosinya). Kalau memang saat yang (mau ditahan) marah-marah, saya belum tahu ya. Tapi pas ketemu (di rutan) sudah beberapa kali ketemu, (sudah) bisa menceritakan dan nggak terima diperlakukan seperti itu," kata Teguh seusai sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (14/6/2021).

Teguh mengatakan Sri sudah bisa menceritakan peristiwa penangkapan yang dialaminya. Sri, kata Teguh, menyatakan tidak terima atas penangkapannya itu.

"Kondisi terkini kemarin dengan saya sudah bisa cerita ke saya tentang kasusnya. Jadi kita tidak tahu kesehariannya. Tapi pas ketemu sudah bisa cerita apa yang dialami dan dia nggak terima diperlakukan seperti itu," ujarnya.

Teguh ikut menyayangkan penangkapan yang dilakukan KPK kepada kliennya. Menurutnya, apa yang dilakukan KPK telah melanggar hak asasi manusia.

"Tapi yang kita persoalkan di persidangan ini adalah apakah tindakan seperti itu, yang dianggap klien kami melanggar hak asasi manusia sebagai seorang wanita yang lemah, sebagai seorang ibu dari anaknya, sebagai seorang istri dari suaminya, dan sebagai anak dari orang tuanya, yang sudah 2 tahun ada di tahanan, keluar ingin menemui keluarganya tidak diberikan kesempatan sedetik, semenit pun, langsung ditangkap padahal tidak kena OTT, seperti itu yang dipersoalkan sebenarnya. Nah, apakah cara seperti ini dibenarkan atau tidak," jelasnya.

Ajukan Praperadilan

Sri Wahyumi menggugat praperadilan terkait penangkapannya. Sidang praperadilan digelar di ruang 3 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, pukul 14.30 WIB, Senin (14/6). Gugatan ini terdaftar dengan nomor perkara 51/Pid.Pra/2021/PN JKT.SEL dan didaftarkan 5 Mei 2021.

Sri Wahyumi selaku pemohon diwakili pengacaranya, Teguh Samudera. Sedangkan pihak termohon, yakni KPK, diwakili Tim Biro Hukum KPK.

Ditemui seusai sidang, Teguh menjelaskan poin-poin yang menjadi gugatan Sri Wahyumi. Teguh mengatakan penangkapan hingga penahanan kliennya tidak sah dan telah melanggar hak asasi.

"Poin pertama adalah menyangkut masalah penetapan tersangka, yang kedua masalah penangkapan, yang ketiga masalah penahanan. Jadi penangkapan tersangka menurut KUHAP harus ada aturannya, harus ada dua alat bukti minimum. Nah ini ditanyakan waktu diperiksa di lapas, dua alat bukti itu apa, tentang siapa yang misalnya memberikan gratifikasi, berupa apa, di mana, itu nggak dijawab penyidik," jelas Teguh kepada wartawan.

"Ini kan tidak jelas bagaimana caranya, dengan alasan apa, tahu-tahu ditangkap begitu saja, padahal tidak tertangkap tangan, nah sehingga karena itu menurut klien kami itu melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan diajukan dalam praperadilan ini," tambahnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya