Wanti-wanti Satgas ke Warga Usai Kasus COVID di Aceh Melonjak

Agus Setyadi - detikNews
Minggu, 13 Jun 2021 17:42 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Banda Aceh -

Kasus positif Corona di Aceh melonjak sejak lebaran Idul Fitri 1442 H. Satgas Penanganan COVID-19 mengingatkan warga tidak menganggap remeh batuk dan demam.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani mengatakan, dirinya kerap mendapat informasi adanya warga mengalami demam, batuk, serta pilek enggan berobat ke rumah sakit. Warga memilih mengobatinya dengan mengkonsumsi obat-obatan biasa.

"Keputusan tidak memeriksa diri ke dokter dalam situasi pandemi COVID-19 ini merupakan kesalahan besar yang dapat berakibat fatal," kata Saifullah kepada wartawan, Minggu (13/6/2021).

Dia meminta warga tidak sungkan memeriksa diri ke klinik kesehatan serta bersedia di-swab. Masyarakat juga diminta melakukan isolasi mandiri bila terkonfirmasi COVID-19.

Menurutnya, orang yang terinfeksi COVID-19 dan influenza menunjukkan gejala infeksi saluran pernafasan yang sama, seperti demam, batuk dan pilek. Meski gejala sama, tapi penyebab virusnya berbeda-beda sehingga orang awam disebut sulit mengidentifikasi unsur pathogen penyebab penyakit tersebut.

"Pemeriksaan medis yang akurat disertai rujukan pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi apakah seseorang terinfeksi COVID-19. Karena itu, setiap menderita demam, batuk, dan sulit bernapas sangat dianjurkan berobat secara medis. Ikuti prosedur perawatan yang direkomendasikan termasuk diambil swab, dan anjuran isolasi mandiri," ujar Saifullah.

"Makin cepat diketahui jenis penyakitnya dan diberikan tindakan perawatan, akan semakin tinggi peluang sembuh dan semakin rendah pula risiko meninggal dunia," lanjutnya.

Saifullah menjelaskan, Pemerintah Aceh telah melakukan sejumlah langkah untuk menekan penyebaran COVID. Satgas juga disebut melakukan testing dan tracing secara agresif sebagai salah satu bentuk intervensi terhadap risiko sakit berat dan meninggal dunia penderita COVID-19.

"Kedua bentuk intervensi kesehatan itu sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran dan partisipasi aktif setiap elemen masyarakat di desa-desa," ujarnya.

(agse/knv)