Komisi I Hormati Imbauan Amerika: Penanganan Corona RI Lebih Baik dari AS

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 13 Jun 2021 08:39 WIB
Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182, tidak mengurungkan warga untuk memakai jasa penerbangan. Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, terlihat tetap ramai.
Ilustrasi (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak datang ke Indonesia karena persoalan Corona dan terorisme. Anggota Komisi I fraksi NasDem, Farhan, memaklumi aturan yang dibuat oleh setiap negara.

"Setiap negara pada prinsipnya boleh menentukan aturannya masing-masing, kita tentu tidak bisa mengatakan itu salah apa benar, tapi bahwa potensi yang ditemukan itu ada ya ada. tapi apakah segitu besarnya?," kata Farhan, kepada wartawan, Sabtu (12/6/2021).

Farhan lantas meminta Indonesia juga perlu hati-hati menerima orang dari Amerika Serikat. Sebab, kasus Corona di AS lebih tinggi dari Indonesia, apalagi menurut Farhan, AS kini tengah sensitif terhadap orang Asia.

"Buat saya kita juga hati-hati menerima orang Amerika masuk ke Indonesia karena kasus corona mereka tinggi. Kedua juga kan di Amerika yang namanya anti-Asia lagi tinggi jadi kita pun harus hati-hati," ujarnya.

Lebih lanjut, Farhan juga meminta imbauan AS itu untuk dijadikan perhatian. Dia meminta aparat terkait BIN hingga BNPT untuk memastikan apakah potensi ancaman yang disebut AS terbilang rendah atau tinggi.

"Saya lebih menyoroti ini lebih kepada masalah sudut pandang intelijen, bahwa Amerika menyatakan ada potensi terorisme Indonesia itu yang mesti digaris bawahi, bahwa Amerika mengeluarkan warning seperti itu maka sebaiknya BIN, dan BNPT dan Densus 88 serta Bais untuk memastikan apakah ancaman itu potensi tinggi atau rendah. Saya lebih melihatnya sebagian dari intropeksi," tuturnya.

Sama halnya dengan Riski Aulia Rahman, Anggota Komisi I fraksi Partai Demokrat. Dia mengatakan imbauan AS itu agar dijadikan peringatan bagi Indonesia untuk berhati-hati.

"Kita menganggap imbauan tersebut juga merupakan peringatan kepada Pemerintah Indonesia untuk berhati-hati dalam mengidentifikasi ancaman nasional, terutama yang berkenaan dengan terorisme. Pemerintah Indonesia sudah seharusnya memperhitungkan implikasi citra Indonesia di mata dunia," ujarnya.

Yang terpenting menurut Riski, ialah bagaimana tingkat keamanan di Indonesia. Jangan sampai, keadaan di dalam negeri malah terprovokasi.

"Di sisi lain, yang terpenting sekarang adalah bagaimana hot spots instabilitas keamanan di Indonesia dikelola secara hati-hati oleh pihak keamanan. Jangan sampai aparat di lapangan mudah terprovokasi sehingga memperkeruh keadaan," ucapnya.

Lebih lanjut, Anggota Komisi I lainnya, Bobby Adhityo Rizaldi menilai kebijakan negara lain itu harus dihormati. Meskipun menurutnya, penanganan Covid di Indonesia jauh lebih baik dari AS.

"Kita tentu menghormati kebijakan negara lain, karena pada saat ini tidak ada satu negara pun yang bebas dari pandemi covid, dan sudah menjadi kewajiban untuk melindungi warga nya masing-masing," ujarnya.

"Bila mana memang ada 'essential trip', semua negara juga punya kebijakan protokol kesehatan untuk hal tersebut, mulai persyaratan swab, vaksin sampai karantina. Walaupun sebenarnya penanganan corona di Indonesia sudah dapat diklasifikasi kan sangat baik bahkan lebih baik dari AS," lanjut Politikus Golkar ini.

Simak imbauan AS di halaman berikut

Saksikan juga 'Pesan Satgas Soal Viral Penggunaan Obat Ivermectin untuk COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]