Ibu Saya Rawat Paman hingga Meninggal, Bagaimana Pembagian Warisnya?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 08:05 WIB
patung dewi keadilan, Dewi Themis yang menjadi simbol keadilan
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Ibu seorang pembaca detik's Advocate merawat saudara kandung di saat kritis hingga meninggal dunia. Lalu, apakah merawat saudara yang sakit bisa mempengaruhi pembagian waris?

Berikut pertanyaan yang dikirimkan Lia kepada detik's Advocate dalam surat elektroniknya"

Perkenalkan saya Lia. Saya mau bertanya

Saya mempunyai paman yang belum lama meninggal dunia. Paman saya belum menikah dan tidak mempunyai keturunan, kedua orang tuanya sudah tiada.

Paman saya mempunyai 5 saudara kandung. 1 laki-laki (masih hidup) dan 4 perempuan, 2 saudara perempuannya masih hidup sedangkan 2 saudara perempuannya lagi sudah wafat.

Nah ibu saya ini termasuk saudara perempuannya yang sudah wafat. Bagaimana pembagian waris atas harta peninggalannya menurut hukum Islam?

Sebagai catatan, semasa hidupnya paman saya tinggal bersama saya dan ibu saya (almarhumah). Ibu saya yang mengurus dan merawat paman saya. Sampai terakhir ibu saya wafat.

Mohon penjelasannya Pak.

Terima kasih.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami meminta pendapat hukum kepada advokat Pandapotan Pintubatu, S.H. Berikut jawabannya:

Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan kepada kami.

Pengaturan hukum terkait waris di Indonesia saat ini masih memberlakukan hukum waris menurut Kitab Hukum Undang-Undang Perdata (KUHPerdata), Hukum Waris menurut Adat, dan Hukum Waris menurut Islam. Jadi perlu disampaikan bahwa terhadap permasalahan hukum mengenai warisan yang bergama Islam tunduk pada hukum islam sebagaimana yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), sehingga menjawab pertanyaan tersebut didasarkan pada KHI.

Pada dasarnya warisan dalam hukum Islam dibagi berdasarkan bagian masing-masing ahli waris yang sudah ditetapkan dan berdasarkan pembagian yang dilakukan melalui wasiat. Khususnya terhadap warisan wasiat dapat terjadi apabila yang memberikan wasiat atau pewaris:

1. Telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan;
2. Benda yang diwasiatkan harus hak dari pewasiat;
3. Wasiat dapat dilaksanakan setelah pewasiat meninggal dunia.

Adapun terhadap wasiat hanya diperbolehkan diwasiatkan sebanyak sepertiga dari harta warisan kecuali semua ahli waris menyetujui.

Selanjutnya, dalam Pasal 171 mengatur terkait dengan pengertian dari pewaris, ahli waris, harta peninggalan, wasiat, hibah, dan lainnya yang perlu untuk dipahami. Hal ini bertujuan untuk mengetahui syarat terjadinya pewarisan dan siapa saja yang berhak atas warisan yang ditinggalkan pewaris.

Terlebih dari hal tersebut, dalam pewarisan islam ahli waris harus beragama islam yang diketahui melalui Kartu Identitas atau pengakuan atau kesaksian, sedangkan bayi baru lahir/anak belum dewasa beragama menurut ayahnya/lingkungan. Dalam pewarisan Islam dapat terjadi halangan atau terhalang menjadi ahli waris berdasarkan putusan hakim berkekuatan hukum tetap dikarenakan:

a.Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris;
b.Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan dimana pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam hukuman 5 tahun penjara atau lebih berat.

Adapun, ahli waris dalam hukum islam dbagi menjadi kelompok berdasarkan hubungan darah dan hubungan perkawinan. Hubungan darah dengan golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek dan hubungan darah dengan golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek. Sedangkan hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.

Merujuk pada pertanyaan saudara digariskan dengan penjelasan pewarisan dalam hukum Islam di atas dapat dilakukan karena memenuhi syarat yang telah ditetapkan dalam KHI. Adapun dalam pembagian warisan oleh Paman Anda terhadap Ibu Anda bersama dengan saudara Ibu Anda laki-laki dan perempuan adalah mendapat bagian 2 (dua) (laki-laki) berbanding 1 (satu) (perempuan).

Paman Anda sebagai pewaris yang memiliki 1 saudara laki-laki dan 4 saudara perempuan, maka saudara laki-laki mendapatkan bagian 1/3 bagian sedangkan perempuan mendapatkan 1/6 bagian termasuk Ibu Anda.

Sebagaimana Anda nyatakan dalam pertanyaan bahwa Ibu Anda meninggal terlebih dahulu daripada Paman Anda sebagai pewaris. Artinya Ibu Anda telah pernah menjadi pewaris sebelumnya dan Anda menjadi ahli waris dari Ibu Anda.

Lebih jauh lagi, perlu untuk diketahui terkait dengan pernyataan "Sebagai catatan, semasa hidupnya paman saya tinggal bersama saya dan ibu saya (almarhumah), ibu saya yang mengurus dan merawat paman saya, sampai terakhir ibu saya wafat". Hal ini tidak mempengaruhi sama sekali terhadap pembagian dalam pewarisan kecuali Paman Anda pernah membuat wasiat kepada Anda.

Berkaitan dengan hal tersebut dimana Ibu Anda sudah meninggal maka berdasarkan Pasal 185 KHI yang berbunyi:
1. Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173;
2. Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Dengan demikian, Ibu Anda yang meninggal terlebih dahulu sebagai ahli warsi dari Paman Anda dapat digantikan oleh Anda sebagai anak dari Ibu Anda dengan mendapat bagian sebagaimana seharusnya Ibu Anda dapatkan. Sebagai catatan Anda yang menggantikan kedudukan Ibu Anda harus sudah dewasa, jika tidak dewasa maka akan diangkat wali.

Terima Kasih

Pandapotan Pintubatu, S.H.
Advokat, tinggal di Jakarta

Sumber/Referensi:
1. Subekti, dan R.Tjitrosudibio, 2004, KUHPER, Bab II tentang kebendaan, Jakarta, PT Pradnya Paramita.
2. Lihat Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama);
3. Pasal 171 jo. Pasal 194 Kompilasi Hukum Islam;
4. Pasal 194 Kompilasi Hukum Islam;
5. Pasal 195 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam;
6. Pasal 172 Kompilasi Hukum Islam;
7. Pasal 173 Kompilasi Hukum Islam;
8. Pasal 174 Kompilasi Hukum Islam;
9. Pasal 182 Kompilasi Hukum Islam;
10. Pasal 184 Kompilasi Hukum Islam.

Tentang detik's Advocate
detik's Advocate adalah rubrik di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembacadetikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh tim detik, para pakar di bidangnya serta akan ditayangkan di detikcom.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hukum waris, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email:redaksi@detik.com dan di-cc ke-email: andi.saputra@detik.com

Berhubung antusias pembaca untuk konsultasi hukum sangat beragam dan jumlahnya cukup banyak, kami mohon kesabarannya untuk mendapatkan jawaban.

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.

Salam
Tim Pengasuh detik's Advocate

(asp/asp)