Imigrasi Bali Panggil Pemilik Vila Tempat Bule Pesta Seks Orgy

Sui Suadnyana - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 14:05 WIB
“Semalam sudah diperiksa 4 siswa dengan orang tuanya, mereka mengaku dikirimi berbagi gambar porno,” ujar Hendy.

Sejauh ini polisi belum menemukan indikasi adanya tindak asusila terhadap 4 siswi yang dikirimi chat porno. Namun polisi masih melakukan pendalaman.
        
“Hingga tadi malam, dari keempat siswi yang kita periksa masih sebatas dikirim chat porno. Apabila dalam perkembangan penyidikan ada korban yang mendapat perilaku menyimpang, maka kita berikan trauma healing,” tutur Hendy.
Foto ilustrasi video porno. (Fuad/detikcom)
Denpasar -

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) Bali masih menyelidiki 4 warga negara asing (WNA) dan 1 orang WNI yang melakukan pesta seks di salah satu vila. Pemilik vila tempat pesta seks orgy itu berlangsung akan dipanggil Imigrasi.

"Saya perintahkan Kanim Ngurah Rai agar pemilik vila itu dipanggil," kata Kakanwil Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk di kantornya, Senin (7/6/2021).

Pemanggilan pemilik vila yang diduga merupakan warga negara Prancis itu dilakukan guna mengetahui sistem transaksi antara dirinya dan para pelaku pesta seks. Jika misalnya ditemukan terdapat penghilangan tanda bukti atau tak ada pembayaran pajak akibat transaksi penyewaan vila tersebut, nantinya akan dilaporkan ke Direktorat Jenderal Pajak.

Menurut Jamaruli, pihaknya mendapat informasi bahwa transaksi penyewaan vila hanya terjadi antara para pelaku pesta seks dengan pemilik vila. Diduga transaksi penyewaan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan bisnis.

"Kalau dia berbadan usaha, seharusnnya dia punya rekening dong badan usahanya. (Informasi ini orang Prancis) dugaannya, informasi dari yang menjaga. Tapi kan ini harus kita pastikan juga, belum pasti, itu baru keterangan dari yang sehari-hari bertugas di vila itu," kata Jamaruli.

Namun hingga saat ini, Kanwil Kemenkumham Bali masih melakukan penelusuran kepada pemilik vila tersebut. Sebab, informasi yang didapatkan baru sebatas nama Philips. Jika nama ini dicari dalam data imigrasi, sangat banyak ditemukan orang dengan nama tersebut.

"Permasalahannya nama itu hanya Philips, kalau kita cari Philips sebanyak apa itu (yang keluar). Makanya kita harus cari detail ya dulu namanya siapa, jadi kita cari tahu dulu (dengan) benar, nanti (sudah) ngomong ternyata salah. Ya (waktu kami datang ke via itu) pihak penjaga yang menemui. Informasi dari dia (penjaga), pemiliknya bernama Philips orang Prancis. Phillips orang Prancis banyak banget," kata dia.

Oleh karena itu, sebelum memanggil pemilik, terlebih dahulu akan dipanggil penjaga dari dari vila tersebut. Hal itu dilakukan guna mencari informasi yang lengkap tentang bule pemilik vila.

"Kalau lengkap informasinya baru kita kirimkan surat panggilannya. Tapi kalau datanya sendiri belum lengkap mau kita kirim ke mana," jelas Jamaruli.

Identitas 2 dari 4 pelaku masih dicari

Kanwil Kemenkumham Bali belum menemukan dua dari empat identitas bule yang pesta seks ini. Sementara satu wanita lokal identitasnya dicari oleh aparat kepolisian.

"Ini datanya yang masuk ke kita, nama dia sebenarnya siapa, ini yang belum kita dapat. Jadi masih nama-nama samaran. Kalau nama samaran kan susah. (Wanita WNI juga) belum (ditemukan). Itu polisi yang mencari. Kalau Imigrasi tidak punya kewenangan untuk mencari (wanita WNI) itu, nanti dituntut balik itu," kata Kakanwil Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk di kantornya, Senin (7/6/2021).

Meski identitas aslinya belum ditemukan, Jamaruli memperkirakan kedua bule dan satu wanita lokal tersebut kini masih berada di Bali. Karena itu, sampai detik ini pihaknya masih terus berupaya mencari nama yang sebenarnya dari dua bule tersebut.

Sejumlah personel terus dikerahkan guna melakukan pencarian bule tersebut. Personel yang diturunkan yakni dari Kanwil Kemenkumham Bali dan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai. Jumlah personel tersebut mencapai belasan orang.

"Kalau nama yang benar sudah ketemu, kami hitungan detik (bisa) ketemu. Nah itu upaya yang sekarang ini. Selama data yang benar itu tidak ketemu, ya kami susah (mencarinya)," terang Jamaruli.

Nantinya, jika seandainya kedua bule tersebut berhasil ditemukan pihaknya bakal menyerahkannya kepada pihak kepolisian sesuai ketentuan tindak pidana umum. Nantinya kedua bule itu akan dideportasi usai menjalani hukuman.

"Tapi kalau pun polisi tidak menghukum, dikatakan tidak cukup bukti atau apalah, yaudah kita pulangkan, kita blacklist saja tidak boleh masuk ke Indonesia. Ya langsung deportasi," kata dia.

Jamaruli pun menegaskan agar setiap masyarakat yang berada di wilayah hukum Indonesia, baik WNI maupun WNA untuk mengikuti peraturan perundang-undangan. Khusus dalam penanganan bule, Jamaruli mengungkapkan ada kewajiban dari pihak hotel atau penginapan harus melaporkan WNA yang menginap di tempatnya ke pihak imigrasi. Pelaporan ini dilakukan melalui Aplikasi Pendaftaran Orang Asing (APOA).

"Ketika dia (bule) check ini harusnya itu sudah ada masuk di aplikasi kita semacam WhatsApp, difoto, kirim ke kita. Nah kita langsung tahu di sini ada orang asing menginap. Tapi kalau mereka tidak pernah mengirim itu ya kita dari mana tahu datanya. (Tempat menginap ini) memang tidak melapor," tuturnya.

Sementara itu, Jamaruli belum berani menyebarkan berbagai foto terkait kedua bule tersebut untuk kepentingan pencarian. Sebab pihaknya belum mengetahui dengan detail identitas kedua bule tersebut.

"Gak berani kita sekarang (menyebar) foto-fotonya, karena foto yang ada di YouTube itu kita enggak bisa memberikan nama detail namanya siapa. Ya nanti ada yang mirip-mirip dicurigai nanti sama orang," kata dia.

"Enggak bisa seperti itu, kecuali kita dapat tahu pasti siapa orangnya, sudah jadi tahanan kita melarikan diri, nah ini datanya ini baru kita berani nyebar. Nah ini di video begini terus kita sebar, yang mirip banyak. Nanti bisa balik ke kita," imbuh Jamaruli.

(nvl/nvl)