Sejarah Perjuangan Tan Malaka Hingga Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 13:21 WIB
Ilustrasi Tan Malaka
Ilustrasi Tan Malaka (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sosok Tan Malaka mungkin tak sepopuler sederet pahlawan nasional Indonesia lainnya. Namun pria kelahiran Sumatera Barat ini punya jasa luar biasa dalam melawan kolonialisme di Indonesia.

Mengutip dari laman resmi LIPI dan buku berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia karya Harry A Poeze berikut sosoknya yang jarang tersorot:

Sosok Tan Malaka

Tan Malaka, yang memiliki nama asli Ibrahim, merupakan putra kelahiran sebuah desa kecil Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, pada 1894. Karena kecerdasannya, Ibrahim berkesempatan masuk Sekolah Guru Pribumi satu-satunya di Sumatera, yakni Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers, di Bukittinggi hingga lulus pada 1913.

Gelar adat terhormat Datoek Tan Malaka diperolehnya pada 1913 melalui upacara adat. Gelar ini merupakan gelar mulia di daerahnya.

Kecerdasan Tan Malaka mengantarkannya meraih ijazah guru di Belanda. Atas bantuan sang guru yang juga seorang Belanda, GH Horensma, ia diterima di Kweekschool, Harlem, Belanda, dan lulus pada pertengahan 1915.

Perjuangan Tan Malaka

Setelah menempuh pendidikan, pada 1920, Tan Malaka bekerja sebagai seorang guru di Maskapai Senembah, sekolah untuk anak-anak kuli kontrak di perusahaan di Sumatera Utara. Rekan-rekan Belanda Tan Malaka kerap meremehkan dirinya hingga akhirnya ia pindah ke Jawa pada Februari 1921 dan mendirikan sekolah di Semarang dan Bandung.

Ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) berkongres 24-25 Desember 1921 di Semarang, Tan Malaka terpilih menjadi pimpinan partai. Sejak saat itu, ia kerap diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada Januari 1922, Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada Maret 1922, Tan Malaka diusir ke luar Indonesia dan sempat berangkat ke Belanda dan kemudian tampil sebagai wakil Indonesia pada Kongres Komintern bulan November 1922.

Pada 1926, pemberontakan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda pecah di berbagai daerah. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan ini terlalu dini dikobarkan oleh PKI.

Akibatnya, pada 1927, Tan Malaka terang-terangan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari). Komintern juga memecatnya. Sejak saat itu, Tan Malaka kerap dikejar-kejar oleh pemerintah kolonial Belanda hingga mantan sekutunya di Komintern dan PKI.

Selama 30 tahun, dia terus menentang kolonialisme tanpa henti, mulai dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hong Kong, Singapura, Rangon, dan Penang.

Setelah Indonesia merdeka, Tan Malaka terus jadi sosok yang menentang diplomasi Belanda yang merugikan posisi Indonesia. Ia pun dikejar-kejar hingga ditembak pada 1949 dan lenyap di kaki Gunung Wilis, Kendiri. Ia disebut meninggal dunia tanpa nisan dan kuburan yang layak.

Kemudian, pada 28 Maret 1963, Presiden Sukarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun namanya jarang terdengar dalam sejarah.

Lihat juga video 'Jokowi Berikan 6 Tokoh Gelar Pahlawan Nasional':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)