Wakil Ketua MPR Bicara Kontribusi Ulama dalam Lahirnya Pancasila

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 09:50 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid bersama dengan Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar dan para ulama se-Jawa Barat memperingati Hari Lahir Pancasila dengan melakukan kegiatan doa bersama untuk keselamatan bangsa.

Dalam kesempatan itu, Jazilul mengatakan Harlah Pancasila menjadi momentum yang sangat penting karena merupakan pengikat kebangsaan. Oleh karena itu, ia mengingatkan besarnya peran para ulama dalam lahirnya Pancasila.

"Banyak yang lupa kalau di dalam Pancasila, ibarat kue, campuran terbesarnya itu Islam. Kandungan nutrisi dalam komposisinya terbesar itu Islam makanya mempertahankan Pancasila bagi para kiai sama dengan mempertahankan Islam," ujar Jazilul dalam keterangannya, Rabu (2/6/2021).

Oleh karena itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini memohon doa kepada para kiai agar ke depan perolehan suara PKB akan meningkat, dan Indonesia bisa memiliki pemimpin yang memiliki visi dan misi keulamaan.

"Kita nggak usah malu, takut, atau ragu-ragu karena republik yang dasarnya Pancasila lahir dari jasa para ulama sehingga keturunan ulama berhak untuk memimpin negeri ini," katanya usai memperingati Harlah Pancasila dan Doa Bersama untuk Bangsa di Rumah Dinas Wakil Ketua MPR, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (1/6/).

Dia menuturkan kalangan santri yang memiliki warisan sejarah berdirinya negeri ini dari para ulama harus berani bermimpi untuk memimpin negeri ini. Sebab, kata dia, penting baginya untuk menyatukan arah, pikiran dan doa supaya perubahan 2024 nanti mengarah kepada hal yang diinginkan.

"Kita punya nasab menjadi presiden, dulu Gus Dur menjadi presiden. Tapi kadang kita belum berani, belum yakin betul. Padahal Nabi Sulaiman yang anaknya raja saja, dalam doanya memohon untuk bisa menjadi raja," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar mengaku bersyukur bisa hadir bertatap muka dengan para kiai se-Jabar. Dia mengatakan perjuangan ahlusunnah waljamaah di ranah politik dan kebangsaan sejak pasca reformasi mengalami dinamika yang sangat dahsyat.

"Terjadi lompatan dramatis ketika Gus Dur menjadi presiden dan PKB jadi parpol yang dilahirkan oleh para ulama NU," katanya.

Dia menilai sejak era Reformasi, siapapun calon presiden yang didukung PKB pasti menang. Selain itu, ahlussunnah juga menjadi kekuatan yang bisa diterima dan diharapkan oleh semua kalangan. "Dengan segala kekuatan yang kita miliki, termasuk kekuatan spiritual, mari kita ubah Indonesia menjadi negeri yang maju," katanya.

Lebih lanjut, KH Fikri Haikal dalam tausiahnya pada peringatan Harlah Pancasila itu membenarkan bahwa komposisi terbesar NKRI merupakan warisan para ulama NU.

"Saya pernah membaca buku ketika Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari disodorkan rumusan Pancasila, beliau tirakat tiga hari berpuasa dan mengkhatamkan Al-Quran, lalu Salat dua rakaat. Ketika dalam bacaan iyyakana'budu waiyyakanastain, beliau membaca 350 kali. Sampai pada akhirnya beliau berkata, saya ridha Pancasila menjadi dasar NKRI," tuturnya.

Putra dai sejuta umat KH Zainuddin MZ ini menambahkan NKRI yang merupakan warisan para ulama sudah seyogyanya yang lebih berhak memimpin negeri ini adalah para pewaris ulama. "Kita yang lebih berhak ketimbang orang lain. Jangan sertifikat tanah kita atas nama orang lain," katanya.

Sebagai informasi, hadir dalam acara doa bersama tersebut antara lain, KH Amin Sya'roni, Ciamis; KH Muhsin Azis, Pangandaran; KH Arif Rif'an, Pangandaran; KH Abdul Rosyid, Majalengka; KH Harun Bajuri, Majalengka; Kiai Sulaeman, Subang; H. Didin Misbahuddin, Kuningan; Kiai Elon Caslan, Kuningan; Kiai Ohan Jouharuzzaman, Kuningan.

Selanjutnya, Ubun Bunyamin, Garut; Muhammad Afif, Garut; KH Awan Kurnia, Garut; Ajengan Agus Suryana, Garut; KH Ate Musodiq, Tasikmalaya, KH Holil, Sumedang; KH Idad Isti'dad, Sumedang; KH Aip Syaiful Mubarok, Sumedang; Ajengan AA Fuad Mukhlis, Tasikmalaya; H Toto Mustofa, Tasikmalaya; Ajengan Mas Ahmad Jayalaksana, Tasikmalaya; KH Uu Saehu, Tasikmalaya.

Berikutnya, Abang Banyamin, Tasikmalaya; KH Asep Abdullah, Tasikmalaya; KH Pepep Fuad Muslim; Tasikmalaya; KH Saadullah, Sumedang; Ustaz Ahmad Satari, Tasikmalaya; Kiai Elon Caslan, Kuningan; KH Moch Aliyiddin, Tasikmalaya; Andi Wahyudin, Tasikmalaya; serta KH Anwar Nasihin, Purwakarta.

Simak juga 'Hari Lahir Pancasila, Jokowi: Waspada Rivalitas Antarideologi':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/prf)