Peringatan Serius untuk DKI Kala Kasus Harian Corona Sentuh Angka 1.000 Lagi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 09:08 WIB
Sejumlah fasilitas olah raga ditutup terkait PSBB ketat yang diterapkan di DKI Jakarta, salah satunya adalah Jakarta International Velodrome, Rawamangun. Begini potretnya.
Ilustrasi (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta melaporkan kasus harian Corona sebanyak 1.064 pada Minggu, 30 Mei kemarin. Pakar epidemiologi mengatakan angka itu merupakan peringatan serius untuk Ibu Kota.

"Ini adalah sinyal yang sangat serius untuk Jakarta karena, dalam fenomena pandemi ini, berbagai negara, kota-kota besar inilah yang akan meledak besar, meskipun kota-kota itu pula yang responsnya bagus," kata epidemiolog Griffith University Dicky Budiman kepada wartawan, Senin (31/5/2021).

Dicky mengatakan peningkatan kasus terjadi di kota besar lantaran mobilitas tinggi. Mobilitas itu, kata Dicky, memicu penularan Corona.

"Karena memang jumlah orang bermobilitas aktivitas ya banyak di kota. Dan kaitan mobilitas dan interaksi dan penyebaran dari COVID ini sangat erat, tapi bukan berarti di desa itu tidak, ada tapi ya relatif sedikit karena beberapa faktor, jarangnya aktivitas, jauhnya jarak dan sebagainya. Nah, dalam konteks Jakarta khususnya ini adalah sinyal besar, sinyal sangat serius," kata dia.

Dicky juga mengamati tren Corona di Tanah Air. Secara nasional, Dicky menyebut gelombang pertama Corona di Indonesia belum berakhir.

"Diketahui Indonesia ini belum selesai, satu Indonesia itu masih dalam gelombang pertamanya. Adapun Jakarta memang dia karena punya... di antara provinsi lain, salah satu dari tiga yang paling bagus menurut saya sejauh ini responsnya, memang dia sudah melampaui gelombang pertamanya. Dan untuk konteks Jakarta, dia akan bisa mengalami gelombang kedua yang lebih besar dalam konteks Jakarta, tapi ini beda dengan konteks Indonesia," tuturnya.

Bukan hanya di Jakarta, Dicky juga memaparkan kondisi pandemi di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Dia menyebut data dari daerah tak bisa menggambarkan situasi sebenarnya karena minimnya testing.

"Nah, untuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat jauh lebih serius, jauh berlipat-lipat lebih serius karena saya tidak bisa memastikan kondisi sebenarnya seperti apa, karena minimnya data dari testing, tracing, jauh berbeda dengan Jakarta, gitu. Dan ini adalah bukan politis, dan ini adalah evaluasi nyata dari situation report-nya WHO terakhir yang selalu menempatkan Jakarta dalam posisi yang memang memenuhi kriteria standar dalam pengendalian pandeminya, terutama dari aspek, terutama berbicara pandangan-pandangan pandemi ya aspek testing, tracing, gitu," tuturnya.

Simak video 'Menkes Budi Buka-bukaan soal Lonjakan Kasus Corona':

[Gambas:Video 20detik]



Simak berita selengkapnya di halaman berikut