PBNU Minta Kemenag Atur Toa Masjid Sesuai Kultur Masyarakat

Arief Ikhsanudin - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 07:44 WIB
Ketua PBNU Marsudi Syuhud.
Foto: Ketua PBNU Marsudi Syuhud. (Kanavino-detikcom)


Marsudi lalu bercerita soal di lingkungan rumahnya di Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat terdapat masjid tua. Masjid itu masih menggunakan pengeras suara untuk aktivitasnya.

"Toa bunyi nggak ada masalah. Mereka berkomunitas dan saling menghormati. Kalau azan ya azan saja. Mungkin sesunguhnya terganggu, kalau ada orang berani ngomong kayak nomor dua (terganggu), tinggal sesuaikan saja," ujarnya.

Marsudi menyebut, aktivitas toa di masjid beberapa daerah di Indonesia tak hanya soal azan dan iqomah. Sehingga, aturan soal toa pun harus melihat kultur keagamaan dan lingkungan sekitar.

"Itu kulturnya begitu, yang salawatan, itu kutur. Tapi cari jalan terbaik menurut lingkungan masjid terdekat," ucapnya.


Diketahui, Arab Saudi mengeluarkan kebijakan terkait penggunaan pengeras suara masjid yang hanya diperbolehkan untuk azan dan iqomah saja. Kementerian Agama (Kemenag) RI juga kini tengah membahas aturan penggunaan Toa di masjid untuk mempertimbangkan aturan serupa.

"Ya (penerapan aturan soal pengeras suara di Saudi jadi pertimbangan), banyak masukan dari masyarakat terkait dengan penggunaan pengeras suara di masjid. Kami sedang membahasnya," kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin kepada detikcom, Selasa (25/5/2021).

Alasan Arab Saudi Batasi Penggunaan Toa Masjid

Pembatasan yang diberlakukan otoritas Arab Saudi terhadap penggunaan pengeras suara eksternal masjid didasarkan pada sejumlah alasan. Salah satunya agar tidak mengganggu orang sakit dan lanjut usia (lansia) yang tinggal di sekitar masjid.

Pihak kementerian mendapati bahwa pengeras suara eksternal masjid juga digunakan selama salat berlangsung. Hal ini, menurut surat edaran itu, mengganggu para pasien yang sakit, orang-orang lansia, dan anak-anak yang tinggal di sekitar masjid.

Disebutkan juga bahwa akan ada gangguan dalam bacaan dan ritual yang dilakukan oleh para imam masjid. Hal ini disebut bisa memicu kebingungan bagi jemaah di masjid dan bagi warga yang tinggal di sekitar masjid.


(aik/idh)