Beri Benih hingga Cold Storage, Mentan Harap Pesantren Edukasi Pertanian

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Sabtu, 22 Mei 2021 22:48 WIB
Kementan
Foto: Kementan
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) serahkan bantuan benih hortikultura dan mobil cold storage senilai Rp 505 juta kepada Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ittifaq Kabupaten Bandung. Bantuan tersebut diberikan melalui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) saat acara launching korporasi petani hortikultura.

"Hari ini saya dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian melihat secara langsung seperti apa fasilitasi pertanian untuk mendorong potensi yang ada di pesantren untuk bisa mengoptimalisasi diri dan terus berproses dalam edukasi dan pembelajaran betapa pertanian sebagai karunia Tuhan ada di depan mata kita," ujar Mentan SYL, dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/05/21).

Lebih lanjut, SYL mengatakan Ponpes Al-Ittifaq telah memperlihatkan proses-proses dalam pertanian tidak hanya dalam membina petani-petani di sekitarnya namun juga turut menjadi pembelajaran bagi para santri.

"Hari ini sayur sayur disini sudah bisa menembus berbagai marketplace, swalayan dan lain lain. Suatu saat tentu saja kita berharap ini nanti bisa dikembangkan lebih kuat karena sekarang ini sudah mulai kuat," jelas SYL.

Dengan adanya korporasi petani hortikultura pesantren, Mentan SYL berharap terdapat prospek untuk terjun lakukan ekspor. Kementan juga akan terus mengawal program pengembangan pesantren sebagai basis- basis kekuatan edukasi pertanian utamanya untuk para petani milenial.

"Kami berharap petani milenial kita yang kita bina saat ini yang jumlahnya 2,5 juta dalam 5 tahun ini dapat menjadi basis kekuatan edukasi pertanian seperti yang kita sampaikan," terang SYL.

Ketua Korporasi Al-Ittifaq Setia Irawan menjelaskan Ponpes Al-Ittifaq di bawah asuhan K.H. Fuad Affandi telah melaksanakan kegiatan agribisnis. Kegiatan tersebut dipadukan dengan kegiatan pesantren.

Usaha pertanian yang dirancang juga terintegrasi dari hulu hingga hilir serta tempat magang atau pelatihan agribisnis bagi santri, mahasiswa dan petani yang berasal dari dalam kabupaten, dari luar provinsi bahkan dari luar negeri.

"Alhamdullilah kami dari pesantren Al-Ittifaq senang sekali dengan kedatangan Menteri Pertanian ke Al-Ittifaq karena ini sekalian mengukuhkan juga bahwa Al-Ittifaq sebagai korporasi petani sektor hortikultura,"ujar Setia.

Setia menjelaskan Ponpes Al-Ittifaq telah mengkolaborasikan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan khas Nusantara, korporasi sebagai bisnis unit pendorong kemandirian ekonomi pesantren, pendampingan kelompok tani dan masyarakat tani sekitar pondok pesantren dan kemitraan antarpesantren se-Indonesia guna penguatan ekonomi umat dan ekonomi kelayakan.

"Pesantren melakukan pendampingan kepada petani binaan di wilayah sekitar pesantren sebanyak 9 poktan untuk 126 jenis sayuran dan buah-buahan, yang dibagi menjadi 3 klaster pendampingan," jelas Setia.

Tidak hanya itu, Koperasi Ponpes juga melakukan kemitraan dengan beberapa pesantren di wilayah Indonesia yaitu 35 Pondok Pesantren di Jawa Barat dalam kegiatan penanganan pasca panen meliputi sortasi, grading, packing, wrapping, dan labelling, sedangkan lainnya, 7 pesantren di Riau, 5 pesantren di Lampung, dan 4 di Sulawesi Utara dalam rangka transfer knowledge serta pendampingan untuk penguatan sektor pangan melalui pondok pesantren.

Saat ini telah memasarkan hasil usaha agribisnisnya ke beberapa pasar modern seperti Alifmart (retail yang dimiliki oleh Koperasi Ponpes Al Ittifaq), pasar retail modern wilayah Bandung dan Jakarta dan sekitarnya (Superindo, Yogya, AEON) dan horeka. Pemasaran juga dilakukan secara online market.

"Kita sangat berterima kasih kepada Kementerian Pertanian atas bantuan cold storage yang diberikan karena ternyata memiliki gudang yang bagus tidak cukup baik jika tidak dilengkapi dengan sistem distribusi yang memadai," pungkas Setia.

Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan kawasan pertanian berbasis korporasi petani mampu meningkatkan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing komoditas sayuran dan buah-buahan, menyediakan dukungan prasarana dan sarana pertanian di kawasan koperasi ponpes secara optimal serta mengaplikasikan teknologi inovatif.

"Parameter dari keberhasilan koperasi ponpes sebagai korporasi petani adalah meningkatnya pendapatan riil rumah tangga petani yang dibina, skala usaha tani, margin profit petani serta diferensiasi dan hilirisasi produk," ujar Prihasto .

Prihasto juga memaparkan Kementan terus mendorong pesantren untuk dapat terjun dalam sektor pertanian. Untuk Ponpes Al-Ittifaq, Kementan telah memberikan bantuan berupa pendampingan dalam aspek budidaya dan akses pasar, sarana produksi budidaya, sarana pasca panen, sarana pengolahan lahan hingga bimbingan teknis korporasi hortikultura,

"Kita berharap setiap pesantren bisa melahirkan calon petani milenial kita dan ke depan mereka yang akan memperbesar pasar ekspor kita dan tentu dengan melibatkan digitalisasi," tutup Prihasto.

(mul/mpr)