Skenario Kosovo - Bosnia untuk Kemerdekaan Palestina

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 17:24 WIB
Jakarta -

Amerika Serikat merupakan tulang punggung perdamaian antara Israel-Palestina. Negara Abang Sam itu sudah menggelontorkan banyak uang kepada negara-negara di Timur-Tengah agar mereka mau berdamai dengan Israel.

"Dia yang membuat rancangan proposal sekaligus penulis skenario Timur- Tengah," kata Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y. Tohari dalam program Blak-blakan detikcom, Jumat (21/5/2021).

Hanya saja, dia melanjutkan, dalam menulis proposal perdamaian yang dibuatnya, AS selalu mengabaikan Palestina dan sebaliknya sangat menganakemaskan Israel. Lewat Perjanjian Oslo yang diprakarsai Amerika, Palestina dipaksa menyerahkan sebagian Yerusalem kepada Israel.

Lalu Presiden Donald Trump yang mengajukan proporal damai untuk kesejahteraan atau Peace for Prosperity, ternyata secara sepihak mencantumkan Yerusalem sebagai milik Israel tanpa boleh dibagi dengan Palestina. Padahal bagi kaum Muslim maupun Kristen di Palestina, Al Quds yang berlokasi di Yerusalem merupakan bagian dari harga diri yang harus dipertahankan bila perlu sampai mati.

"Kalau Amerika memberikan Al Quds saja kepada Palestina konflik itu segera akan berakhir," jelas Hajriyanto.

Berdirinya negara Palestina yang merdeka dengan ibu kotanya di Al Quds, dia melanjutkan, kemungkinan besar sudah memuaskan meskipun wilayahnya sangat kecil dan sempit. Penulis buku Anthropology of the Arabs: Coretan-coretan Etnografis dari Beirut itu membandingkan dengan penyelesaian di Kosovo dari Serbia yang diinisiasi AS pada 2008.

Sebagai negara muslim mini di Eropa, jumlah penduduknya tidak sampai satu juta orang. Begitupun dengan Bosnia dari Yugoslavia pasca Perang Balkan, April 1992. Bedanya, agar tidak menjadi negara muslim yang besar di Eropa, Amerika lalu memasukan wilayah Herzegovina sehingga menjadi Bosnia Herzegovina.

"Jadi kalau saya analogikan, kalau palestina dijadikan seperti Kosovo, maka AS itu akan tidak seburuk sekarang di mata bangsa Muslim di dunia akibat keberpihakannya ke Israel," harap Hajriyanto.

(jat/jat)