Blak-blakan Hajriyanto Y Thohari

Dunia Arab Lebih Merasa Terancam Iran Ketimbang Zionisme Israel

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 06:51 WIB
Jakarta -

Di tengah gempuran ratusan roket dan pesawat-pesawat tempur Israel, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh berkirim surat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), Selasa (18/5/2021). Dia meminta Jokowi untuk memobilisasi dukungan negara Islam dan internasional terhadap Palestina. Mengapa Hamas sampai melakukan hal tersebut?

Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y. Thohari mengatakan sejak beberapa waktu terakhir Palestina merasa ditinggalkan oleh negara-negara Arab. Apalagi setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan pada 2020 menandatangani Kesepakatan Ibrahim (Abraman Accord) untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel.

Menurut Hajriyanto, ada tiga faktor yang membuat mereka berjabat tangan dengan Israel. Pertama, pengaruh Amerika Serikat (AS) yang sangat mendominasi kawasan Timur-Tengah.

"Kuatnya hegemoni AS di kawasan itu membuat negara-negara Arab berlomba-lomba dekat dengan AS. Pemimpin-pemimpin di negara Arab akan dianggap hebat jika mampu masuk Gedung Putih," jelas Hajriyanto yang juga penulis buku Anthropology of the Arabs: Coretan-coretan Etnografis dari Beirut.

Kedua, negara-negara Arab mengalami pergeseran definisi ancaman dari Zionisme Israel ke Iran. Indikasinya antara lain Iran memberikan dukungan penuh kepada kelompok Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hamas di Palestina.

"Iran itu oleh negara-negara Arab disebut sebagai ancaman baru. Kalau dari sudut sejarah, dunia Arab atau Middle East memang pernah dikuasai bergantian antara Persia dan Bizantium," jelas Hajriyanto.

Atas dasar pergeseran ancaman itulah Palestina tidak lagi menjadi jantung politik luar negeri negara-negara Arab. Mereka sudah memiliki kepentingan nasional masing-masing, dengan tidak melihat isu Palestina sebagai prioritas utama.

Di sisi lain, karena konflik Palestina - Israel sudah berlangsung lebih dari 70 tahun, menjadi wajar pula bila mereka merasa lelah. Sebab berbagai upaya mewujudkan diantara dua bangsa yang bertikai itu tak pernah berhasil.

Ketiga adalah faktor ekonomi, yakni adanya bantuan Amerika bernilai puluhan triliun rupiah ke masing-masing negara yang mau berdamai dengan Israel. Hajriyanto mencontohkan Mesir yang mendapatkan bantuan militer setiap tahun sebesar Rp 43 triliun, dan Rp 33 triliun untuk Yordania. Untuk Sudan, AS mengapus semua catatan utang dan mencoretnya dari daftar negara teroris.

"Amerika juga menjamin pasokan air dari Sungai Nil yang saat ini terancam diblokade oleh Ethiopia lewat bendangan terbesar di dunia," paparnya.

Tetapi negara-negara Arab tersebut, dia melanjutkan, tentu menolak analisis (atau tuduhan) semacam itu. Justru mereka (negara-negara Arab yang telah melakukan normalisasi terebut) mengatakan bahwa "normalisasi hubungan dengan Israel tersebut untuk membuka alternatif baru penyelesaian permasalahan Palestina-Israel yg mandek sejak dua dasawarsa terakhir ini."

Lantas, masihkah ada optimisme Palestina untuk menggapai kemerdekaan? Bagaimana idealnya Amerika Serikat bersikap terhadap Palestina, dan bagaimana posisi Indonesia khususnya dalam upaya mewujudkan hal itu? Simak selengkapnya Blak-blakan Dubes RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari, "Dunia Arab Lebih Merasa Terancam oleh Iran Ketimbang Zionisme Israel", Jumat (21/5/2021).

(deg/jat)