Epidemiolog Sebut Daerah Sengaja Kurangi Tes Corona Bukan Hal Baru

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 07:13 WIB
Cara unik dilakukan Polsek Serpong untuk mengingatkan pemudik wajib menjalani tes antigen sepulangnya ke rumah. Mereka menyertakan Superman dan Batman saat berkeliling kampung.
ilustrasi, tes antigen Corona (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejumlah daerah terdeteksi sengaja mengurangi tes Corona demi predikat zona hijau. Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menyebut temuan itu sudah lama terjadi di Indonesia.

"Saya apresiasi Pak Budi tapi ini kan bukan hal baru ya, ini sudah lama dan Indonesia kan begitu daerah-daerah banyak yang tidak transparan," ujar Dicky lewat pesan suara kepada detikcom, Selasa (18/5/2021).

Dicky meminta Ombudsman dan lembaga lainnya mengawasi jumlah testing setiap daerah. Daerah, tegas Dicky, harus melakukan tes Corona kepada warga masing-masing sesuai dengan jumlah penduduk.

"Itu harus dibuktikan dengan 1 orang dites per 1000 orang per minggu," jelas Dicky.

Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh narsum bernama Dicky BuFoto: Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh narsum bernama Dicky Budiman)

Sehingga, kota-kota besar dengan daerah kecil akan berbeda jumlah tes Coronanya. Seperti, Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan daerah-daerah besar lainnya harus melakukan testing lebih dari 10 ribu per minggu.

"Bukan berarti sudah 10.000 tes lalu selesai, tidak ya. Bisa 30 ribu (tes Corona), 50 ribu atau 100 ribu per minggu, sampai dicapai positivity rate maksimal 5% itu sesuai eskalasi pandemi tadi," tutur Dicky.

Sementara itu, Epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad prihatin dengan temuan yang diungkap oleh Menkes Budi.

"Sesuatu yang memprihatinkan kalau memang benar, karena hal tersebut akan menyebabkan penularan Covid semakin tidak terkendali," jelas Riris.

Riris meminta pemerintah pusat melakukan monetering dan evaluasi yang ketat. Pemerintah daerah, kata Riris, harus mengikuti standar WHO soal jumlah tes Corona.

Sementara itu, menurut Riris, predikat zona hijau, kuning, dan merah masih penting bagi daerah-daerah. "Penting karena menjadi indikator berhasil atau tidaknya intervensi pengendalian dan menjadi dasar untuk membuat kebijakan mobilitas yang bisa dilakukan," imbuh Riris.

Sebelumnya Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut ada beberapa daerah yang sengaja memperkecil jumlah tes Corona harian agar temuan kasus di wilayahnya sedikit sehingga masuk ke zona hijau atau daerah risiko rendah COVID-19.

"Karena mengejar (zona) hijau, kuning, merah. Pengennya hijau, testingnya disedikitin," kata Menkes Budi dalam siaran pers Selasa (18/5/2021).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers terkait kedatangan vaksin COVID-19 Sinovac setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (18/4/2021). Sebanyak enam juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang dibawa dengan pesawat Garuda Indonesia tersebut, selanjutnya dibawa ke Bio Farma Bandung sebelum didistribusikan ke Kota dan Kabupaten di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal/aww.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)

Menkes mewanti-wanti aksi itu bisa membuat kasus virus Corona malah jadi meledak terlebih dengan ditemukannya varian baru COVID-19 yang sudah terdeteksi di sejumlah daerah.

"Ini kaya intel, kalau intelnya kita lengah, kelihatannya bagus, tahu-tahu teroris masuk bomnya meledak," tambahnya.

Simak juga 'Jokowi Minta Gubernur Hingga Wali Kota Wajib Melek Data Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/mae)