Spotlight

Analisis Psikolog soal Rentetan Viral Orang Memaki di Momen Libur Lebaran

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 14:24 WIB
Hendak ke Anyer, Wanita maki petugas saat diminta putar balik (Istimewa)
Hendak ke Anyer, wanita ini memaki petugas saat diminta putar balik. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Belakangan ini ramai sejumlah orang yang menjadi viral karena marah-marah dan memaki. Dari pengendara mobil berpelat B yang ngegas saat disekat di Pos Penyekatan Bogor-Sukabumi sampai wanita yang ngamuk karena barang COD-nya tak sesuai dengan pesanan. Fenomena apakah ini?

Psikolog Rosdiana Setyaningrum menjelaskan bahwa fenomena seperti ini belum bisa disimpulkan. Pasalnya, belum ada penelitian yang mengungkap fenomena ini.

"Kalau soal apakah ini tren dan mengapa orang-orang bisa marah-marah, saya juga belum tahu. Karena ini belum ada penelitian juga. Siapa tahu juga, ibu-ibu yang marah-marah itu juga sudah terbiasa marah-marah. Tapi kebetulan viral karena ada media sosial," psikolog Rosdiana Setyaningrum saat dihubungi, Senin (17/5/2021).

Kendati demikian, dia melihat fenomena ini merupakan tanda berkurangnya rasa hormat orang-orang kepada orang lain. Orang menjadi lebih sukar menghargai orang lain yang dianggap lebih lebih rendah.

"Saya melihat, sebagai contoh, ibu yang kena penyekatan itu lebih kepada marah. Bukan sedih. Karena stres bisa sedih dan marah. Kalau penyebabnya, saya tidak tahu. Tapi saya kira ini lebih kepada orang sekarang yang memang penghormatannya kepada orang lain itu turun ya. Sekarang orang memang tampak sulit menghargai orang yang dia anggap lebih rendah," ungkapnya.

Dia lantas mengaitkan orang-orang yang marah dan viral ini dengan survei tentang warganet Indonesia. Microsoft sempat mengeluarkan laporan tahunan terbaru yang antara lain mengukur tingkat kesopanan netizen atau pengguna internet dengan tajuk 2020 Digital Civility Index (DCI). Netizen Indonesia termasuk yang diteliti dan menempati ranking bawah.

"Jadi saya melihat orang sekarang kurang bisa menghargai orang lain dan menganggapnya rendah. Jadi mudah memaki. Maka benar itu survei netizen Indonesia tidak punya sopan santun. Ini cuma gambaran kita di media sosial aja, saat orang gampang memaki di medsos. Di dunia nyata akhirnya melihat orang lebih rendah," tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa saat marah orang bisa mencari cara pelampiasan kemarahan tanpa memaki. "Padahal ketika marah yang bisa dilakukan adalah mengontrol ucapan. Misal ketika kena sekat, ibu itu padahal bisa mengungkapkan kemarahannya seperti, 'Pak, saya sudah setahun tidak mudik'. Bukan dengan memaki," ujarnya.

Lihat juga video 'Viral Perempuan Ngamuk Gegara Diminta Putar Balik Saat Akan ke Anyer':

[Gambas:Video 20detik]