Tentang Coro yang Sering Dipakai dalam Percakapan Warga di Medan

Datuk Haris Molana - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 03:13 WIB
Close up hand hold Dead Cockroach tentacle
Foto: Getty Images/iStockphoto/ananaline
Jakarta -

'Ada coro di kamar mandi, cak tolong semprotkan dulu'. Mungkin anda yang berasal dari luar Medan atau Sumatera Utara (Sumut) bakal bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan coro.

Coro yang dimaksud dalam kalimat itu adalah kecoak. Warga di Medan sangat jarang menyebut serangga berwarna cokelat ini sebagai kecoak. Warga di Medan dan sekitarnya biasanya menggunakan kata coro atau lipas untuk menyebut kecoak.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) Budi Agustono menjelaskan asal mula warga Medan menyebut kecoak sebagai coro. Dia mengatakan coro sebenarnya berasal dari bahasa Jawa.

"Coro bahasa Jawa-nya kecoak, kecoak bahasa Indonesia-nya. Orang Jawa pedesaan lebih sering sebut kecoak dengan bahasa coro," sebut Budi Agustono.

Budi mengatakan sebutan coro sudah digunakan di perkampungan Jawa sejak tahun 1960-an. Saat melihat coro, kebanyakan dari masyarakat langsung menginjaknya dan membuang ke luar rumah.

"Di tahun 1960-an sering terdengar di perkampungan Jawa menyebut kecoak dengan bahasanya sendiri coro. Jika melihat coro yang sedang melintas di lantai rumah, langsung dipijak lalu dibuang keluar rumah," ujar Budi.


Namun, kata Budi, sebutan coro mulai memudar di masyarakat, termasuk orang-orang yang tinggal di Jawa. Masyarakat lebih sering menyebut serangga tersebut dengan kecoak.

"Saat ini sebutan coro makin jarang terdengar sekalipun di kalangan orang Jawa. Sebutan kecoak lebih akrab ketimbang coro. Konotasi kecoa karena begitu terlihat di rumah dikejar, dipijak lalu dibuang keluar rumah memperlihatkan sebutan kecoak itu bukan siapa-siapa. Jika dikaitkan dengan kelas sosial, kecoak acap dihubungkan dengan orang tak berpunya. Sambil guyonan sering terucap 'kayak kecoak lu'. Artinya orang tak berdaya atau lemah," ujar Budi.

Budi menyebut kata coro mulai banyak dipakai warga di Kota Medan dalam percakapan sehari-hari sebelum era 1960-an. Dia tak menjelaskan detail siapa yang memperkenalkan kata coro untuk menggambarkan kecoak di Medan.

"Di Kota Medan kata coro sudah dikenal tahun 1960-an, malah sebelum ini mungkin sudah diketahui luas masyarakat dan di banyak kalangan," ujar Budi.

Budi mengatakan coro juga kerap dipakai sebagai ejekan oleh warga di Medan. Dia menyebut coro biasa disematkan ke orang-orang yang lemah. Hal ini berbanding terbalik dengan analogi ular bagi orang yang bisa menggigit atau membalas orang yang menindasnya.

"Coro atau kecoak tidak seperti ular yang jika salah injak dapat mematuk sampai menewaskan penginjaknya," ujar Budi.

Budi mengatakan harusnya pemerintah daerah tetap menjaga penggunaan kata-kata khas, termasuk untuk penamaan serangga di wilayahnya. Hal ini, katanya, perlu dilakukan untuk menjaga keberagaman bahasa di Indonesia.

"Ekstensifikasi bahasa Indonesia jauh menerobos jantung masyarakat sehingga mempengaruhi penggunaan bahasa daerah. Sejatinya bersamaan dengan luberan bahasa Indonesia, bahasa lokal atau penggunaan bahasa lokal untuk sebutan-sebutan unik dan khas bermuatan tempatan harus dipertahankan agar masyarakat mengerti khasanah lokal. Muatan lokal dapat mempertahankan identitas tempatannya dalam bersinggungan dengan anasir asing yang merambah kuat ke tubuh masyarakat," pungkas Budi.

(aik/aik)