Pedagang-Pembeli Keluhkan Sampah yang Menggunung di Pasar Glugur Sumut

Ahmad Fauzi Manik - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 01:30 WIB
Tumpukan sampah di Pasar Glugur, Rantauprapat, Labuhan Batu, Sumatera Utara.
Sampah di Pasar Glugur,, Labuhanbatu, Sumatera Utara (Ahmad Fauzi Manik/detikcom)
Labuhanbatu -

Tumpukan sampah di Pasar Glugur, Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut), sudah mulai menggunung. Tumpukan ini sangat dikeluhkan warga, baik itu pedagang maupun pembeli yang datang ke pasar.

Setidaknya sudah 5 hari terakhir, sampah tidak diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat.
Dilihat detikcom, Minggu (16/5/2021), ada 2 titik disekitar Pasar Glugur yang dijadikan tempat menumpuk sampah. Satu di sisi tenggara di sebuah lahan yang kosong, dan satu lagi disisi barat di depan barisan toko yang tidak difungdikan pemiliknya.

"Mulai punggahan (sehari sebelum lebaran) itu lah, sampah nggak diangkat orang itu. Sebelum punggahan kayaknya masih diangkat," kata Toyib, seorang pedagang kelapa yang berjualan persis didepan tumpukan sampah di sisi tenggara Pasar Glugur.

Toyib mengatakan tumpukan sampah tersebut sangat mengganggu kenyamanan di Pasar Glugur. Karena selain mengeluarkan bau yang tidak sedap, tumpukan tersebut juga mengakibatkan penyempitan badan jalan.

"Seng (atap) saya sudah jadi korban, kena tabrak. Jalan jadi makin sempit karena sampah sampai meluber ke badan jalan," katanya.

Keluhan yang sama juga disebutkan, Ester, seorang pedagang lainnya. Dia yang sehari-hari berjualan telur di Pasar terbesar se Kabupaten Labuhanbatu tersebut, mengaku mengalami penurunan omset sejak adanya tumpukan tumpukan sampah tersebut.

"Lihat sendiri lah kondisinya seperti ini, bau dan becek. Jorok lah pokoknya. Orang pun malas ke pajak (Pasar) kalo kayak gini," kata perempuan paruh baya tersebut.

Padahal menurut pengakuan Toyib maupun Ester, setiap harinya mereka diwajibkan membayar restribusi sebesar Rp 5 ribu. Uang ini dikutip oleh 2 orang berbeda yang dipercaya berasal dari Dinas terkait.

"Sehari kami bayar perpas (restribusi) Rp 5 ribu lah. Dua orang yang ngutip itu. Satu Rp 3 ribu dan satu lagi Rp 2 ribu," kata Toyib.

Namun baik Toyib maupun Ester mengatakan tidak mengetahui Dinas mana yang melakukan kutipan tersebut. Mereka mengaku hanya menerima selembar kertas sejenis kupon setiap kali membayar kutipan tersebut.

"Kalo ditanya dari Dinas mana, wah kurang tau aku, tapi orang nya (yang mengutip) kenal," sebut Toyib.

Disisi lain seorang warga yang sedang berbelanja, juga mengatakan rasa ketidaknyamanannya dengan kondisi Pasar Glugur. Adanya tumpukan sampah ini membuat dirinya lebih memilih berbelanja di tempat pedagang yang berada agak jauh dari tumpukan sampah tersebut.

"Kalo dibilang terganggu, ya jelas terganggu ya. Soalnya kan bau. Banyak lalat. Saya saja lebih memilih berbelanja di tempat lain (agak jauh), padahal sebenarnya ada langganan saya yang disitu (disekitar tumpukan sampah)," kata ibu yang mengaku bernama Elda tersebut.

Kondisi memperihatinkan ini diharapkan warga segera diatasi pihak terkait. Para pedagang maupun pembeli di Pasar Glugur menilai jika tidak segera diatasi situasi ini akan merugikan kedua belah pihak.

Upaya konfirmasi telah diupayakan kepada Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pasar Glugur Syafridoan Siregar. Namun beberapa kali panggilan telepon yang dilakukan detikcom, tidak diangkat oleh orang yang paling bertanggung jawab terkait pasar Glugur ini.

(aik/aik)