PPP Nilai Anggapan Dendam Firli Nonaktifkan Novel dkk Hanya Perkeruh Suasana

Matius Alfons - detikNews
Kamis, 13 Mei 2021 08:24 WIB
Arsul Sani
Foto: Arsul Sani (Mochamad Zhacky Kusumo/detikcom)

Arsul pun menyebut pertimbangan MK ini sejalan dengan semangat pembentukan UU baru yakni terkait alih status kepegawaian menjadi ASN. Sehingga dia meminta agar KPK menggunakan pendekatan seleksi ulang bukan rekruitmen baru ASN.

"Nah apa yang terjadi sekarang ini lebih menggunakan pendekatan 'seleksi ulang' ketimbang prinsip alih status yang seyogianya terjadi dulu, kemudian baru ada proses evaluasi sebagai ASN dalam rangka pembinaan dan peningkatan di atas," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri Amsari mensinyalir ada dendam pribadi Komisaris Jenderal Firli Bahuri di balik penonaktifan 75 pegawai KPK. Sebab, beberapa nama yang dinyatakan tak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) itu pernah menuntut agar Firli diperiksa karena diduga melanggar kode etik KPK. Mereka juga diketahui pernah mengkritik dan berbeda pendapat dengan Firli.

"Jadi, begitu Pak Firli masuk ke KPK, beberapa orang yang menyapanya langsung dituding sebagai orang yang pernah ikut mendemo dirinya," kata Feri kepada tim Blak-blakan detikcom, Selasa (11/5/2021).

Dendam pribadi itu dikemas lewat TWK dengan pertanyaan-pertanyaan yang absurd, menyalahi aturan, dan melecehkan agama. Tapi Firli Bahuri tidak peduli atas semua itu. "Bagi saya, Pak Firli ini adalah boneka yang digerakkan oleh banyak orang untuk menghantam 75 orang ini," tegas Feri Amsari.

Halaman

(maa/man)