Lebih dari 1 Juta Orang Nekat Mudik, Mengapa Penyekatan Tak Efektif?

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 12 Mei 2021 17:22 WIB
Pemudik sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.
Foto: Pemudik yang menggunakan motor menumpuk di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Jakarta -

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengungkapkan sebanyak 1,2 juta warga mudik meskipun ada larangan dari pemerintah. Meski polisi telah mendirikan 381 pos penyekatan pemudik di seluruh wilayah, masyarakat tetap nekat melakukan tradisi mudik bahkan hingga menjebol penyekatan seperti yang terjadi di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat (Jabar).

Apa yang bikin penyekatan ini belum efektif membendung jumlah warga yang mudik?

"Yang pasti ini menunjukkan masyarakat itu bandel. Karena pemerintah sudah selalu mengingatkan setiap terjadi libur agak panjang, pasti terjadi kenaikan COVID. Larangan mudik kan dalam rangka mencegah terjadinya penularan COVID, tapi kan masyarakat nekat tetep pengen mudik. Kesimpulannya masyarakat bandel," kata Pakar Transportasi Darmaningtyas kepada wartawan, Rabu (12/5/2021).

Menurut Darmaningtyas, penyekatan tak efektif karena warga yang ngotot mudik tak memiliki kedewasaan dan tak memiliki empati pada dokter serta tenaga kesehatan (nakes).

"Jadi ini semua tergantung kedewasaan masyarakat. Saya sendiri karena saya tidak mau kena COVID, saya memilih tidak mudik. Efektif tidaknya ini tergantung pola pikir masyarakatnya, kedewasaannya. Mestinya masyarakat harus punya empati terhadap penderitaan para dokter dan nakes lainnya," tutur dia.

Pemudik sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.Foto: Pemudik sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras)

Dia mengatakan jika terjadi ledakan kasus positif COVID-19, dokter dan tenaga kesehatan adalah yang paling menderita.

"Kalau terjadi ledakan, yang paling menderita dokter dan nakes lain. Kalau masyarakat punya empati terhadap penderitaan para tenaga kesehatan, maka masyarakat nggak akan bandel. Kalau masyarakat itu bandel, artinya nggak punya empati pada para dokter dan nakes," sambung dia.

Jika pemudik bandel, lanjut Darmaningtyas, opsi pemblokiran jalan kemungkinan lebih efektif. Meski ada dampak lainnya yang harus dipikirkan juga solusinya.

"Kalau soal langkah penyekatan saya rasa memang salah satu jalannya itu. Kecuali semisal memblokir jalan sama sekali, itu mungkin malah lebih efektif. Tapi risikonya kalau blokir jalan, orang-orang yang mau berkepentingan misalnya ada keluarga sakit dan meninggal tidak bisa terakomodasi," ungkap Darmaningtyas.

Dia mengusulkan pemerintah mengubah larangan mudik menjadi izin mudik, namun harus dengan transportasi umum. Mengapa demikian?

Simak video 'Soal Larangan Mudik, Kapolri: Maaf dan Mohon Maklum':

[Gambas:Video 20detik]



Simak penjelasan pakar transportasi Darmaningtyas selengkapnya di halaman berikutnya.