Pihak Wisma Atlet Geram Ada yang Provokasi soal Insentif Nakes

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 12 Mei 2021 11:32 WIB
Menandai 1 tahun beroperasinya RSDC Wisma Atlet, sejumlah nakes dan pasien kompak membentuk orkestra dengan instrumen angklung.
Ilustrasi nakes (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Koordinator Humas dan Komandan Lapangan Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Letkol Laut Muhammad Arifin, angkat bicara mengenai kabar insentif sejumlah nakes yang belum dibayar. Arifin meminta tak ada pihak yang memprovokasi nakes soal dana insentif tersebut.

"Kasus yang kemarin sempat dari kemarin, yang oknum nakes yang mengatasnamakan Jaringan Nakes Indonesia, itu tidak ada. Nanti saya akan share surat pernyataan yang dikatakan Ketua/Koordinator Jaringan Nakes Indonesia. Mudah sekali mengatasnamakannya. Zaman sekarang jangan mudah seperti itu, terprovokasi. Cek dan re-check tentunya. Organisasi apa itu kan. Apalagi berafiliasi, saya lihat di situ dengan Serikat Tani Indonesia. Nggak ada hubungannya. Kami di sini ada relawan. Teman-teman di sini adalah relawan kemanusiaan, berbakti kepada manusia yang lain," kata Arifin, Selasa (11/5/2021).

Arifin mengatakan informasi mengenai masalah insentif nakes ini sudah ditangani. Dia berharap para nakes bisa kembali semangat setelah insentif cair.

"Kemudian kami selaku yang mewakili rumah sakit darurat menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang tentunya hari ini saya harapkan sudah clear, sudah tidak ada yang menulis-nulis lagi tentang besok, tentang insentif yang sudah tidak, mungkin update-nya sudah disampaikan dan saya harapkan tidak memperpanjang," ujar Arifin.

"Kemudian kita fokus ke depan. Karena kita sudah mempersiapkan H-1 sebelum Lebaran sudah kami siapkan seluruh nakes-nakes yang ada di sini, semangat kembali. Apalagi dapat insentif ya, insentif yang sudah cair ini menyemangati kembali moril dari relawan di sini dan saya berpesan memang insentif itu bukan suatu hal yang mutlak. Namun demikian, harapan kami selaku yang mewakili teman-teman di lapangan tidak menafikan untuk mendapatkan insentif itu," lanjut Arifin.

Kabar sejumlah nakes yang belum menerima insentif ini disampaikan Koalisi Warga untuk Keadilan Tenaga Kesehatan Indonesia. Koalisi itu terdiri dari Kantor LBH dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW), Transparency International Indonesia, Lokataru Foundation, dan LaporCovid-19.

Pada 5 Mei lalu, Jaringan Nakes Indonesia menyampaikan kabar memprihantikan kepada LaporCOVID-19 terkait insentif relawan nakes RSDC Wisma Atlet yang belum dibayar sejak Desember 2020 hingga April 2021. Bahkan beberapa nakes disebut belum menerima insentif sejak November 2020.

"Artinya, mereka bekerja tanpa upah sama sekali di tengah tingginya risiko infeksi. Padahal, sebagian tenaga kesehatan ini tidak bisa bekerja di tempat lain selama menjadi relawan. Selama itu pula nakes di RSDC Wisma Atlet bertahan hidup dengan konsumsi dari Wisma Atlet dan donasi dari sejumlah pihak. Meski berstatus sebagai relawan, mereka mendapatkan Nota Dinas yang dikeluarkan oleh BPPSDMK Kementerian Kesehatan RI," demikian keterangan tertulis dari Koalisi Warga untuk Keadilan Tenaga Kesehatan Indonesia yang terdiri dari Kantor LBH dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW), Transparency International Indonesia, Lokataru Foundation, dan LaporCovid-19.

Pada 7 Mei, relawan nakes berencana menggelar konferensi pers untuk menyampaikan aspirasinya sekaligus hasil survei tentang insentif nakes. Namun konferensi pers ini batal digelar karena mereka mendapatkan sejumlah tekanan.

"Tidak dapat dipungkiri adanya kemungkinan mereka menandatangani dokumen penerimaan insentif di bawah tekanan. Ancaman terhadap mereka sebenarnya juga kerap kali terjadi sebelum ini. Padahal niat baik mereka harusnya disambut baik, dan negara harus melindungi mereka sebagai tenaga kesehatan, pekerja, dan warga negara yang baik," lanjut keterangan tertulis Koalisi Warga untuk Keadilan Tenaga Kesehatan Indonesia.

Menurut data Jaringan Nakes Indonesia per 10 Mei 2021, kurang lebih ada 1.500 perawat yang belum menerima insentif November-Desember 2020. Sedangkan pada Januari 2021, sekitar 400 perawat yang belum menerima insentif.

"Permasalahan ini diperparah ketika nakes terpaksa bungkam untuk menyuarakan permasalahan insentif karena tekanan dari beberapa pihak, sehingga nakes tidak berani menyampaikan pendapat maupun keluhan atas hak insentifnya. Sistem kerja nakes selama pandemi di Wisma Atlet, harus tinggal di dalam wisma dan dikontrol oleh militer dan Polri dimana kontrak mereka juga diperpanjang secara otomatis setiap bulan. Nakes juga mengalami kegamangan apabila berhenti bertugas, dikhawatirkan tunggakan insentif tidak dicairkan," kata Koalisi Warga untuk Keadilan Tenaga Kesehatan Indonesia.
Atas hal itu, Koalisi Warga untuk Keadilan Tenaga Kesehatan Indonesia menyampaikan sejumlah tuntutan sebagai berikut:

1. Segera mencairkan dan memberikan dana insentif kepada para nakes yang bertugas melayani perawatan pasien Covid-19, terutama mereka yang bertugas di RSDC Wisma Atlet dan RSDC lainnya sebelum pertengahan Mei 2021
2. Memenuhi semua kewajiban sebagai aparatur negara yang bertanggung jawab untuk memberikan hak insentif dan santunan kepada nakes sesuai amanah peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Memberikan insentif bagi nakes yang tidak bekerja pada fasilitas layanan kesehatan yang dikategorikan menurut KMK HK.01.07/MENKES/4239/2021 namun terinfeksi dan menderita Covid-19.
4. Menghentikan semua pencitraan bahwa dana insentif dan santunan kepada tenaga kesehatan sudah dicairkan, padahal kenyataan di lapangan masih banyak nakes yang belum menerima. Kami mengecam keras tindakan sewenang-wenang dan segala bentuk tekanan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkuasa, serta mendesak Bapak Budi Gunadi Sadikin dan jajaran Kementerian Kesehatan untuk segera mengambil langkah yang tepat dalam melindungi hak tenaga kesehatan dan mencegah adanya upaya-upaya kekerasan kepada
tenaga kesehatan sebagai bukti adanya ketegasan dalam melindungi tenaga kesehatan yang telah mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.

Simak video 'TNI Geram Ada Oknum Provokatori Nakes soal Dana Insentif':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/hri)