Kontrovesi yang Dilakukan Nabi dan Sahabat (18)

Nabi Sebagai Diplomat Ulung

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Rabu, 12 Mei 2021 05:18 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Saat perebutan kembali kota Mekkah (Fathu Makkah) bertepatan bulan tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H (630 M), terjadi peristiwa menarik. Ketika Abu Sufyan pemimpin tertinggi suku Quraisy di Mekkah tidak bisa berdaya menyaksikan besarnya pasukan Nabi yang datang dan mengepung kota Mekkah di malam hari. Ia hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi pada dirinya dan seluruh kaumnya di Mekkah. Namun di luar dugaan mereka karena Nabi yang memimpin penyerbuan itu mengumumkan kepada kaum Quraisy Mekkah, kaum Quraisy dibebaskan.

Nabi menyerukan: "Antum al-thulaqa, al-yaum yaum al-marhamah" (Kalian merdeka dan hari ini adalah hari berkasih sayang). Barangsiapa yang masuk di dalam rumah Abu Sufyan akan aman, atau masuk ke pelataran ka'bah juga aman, atau masuk ke dalam rumah masing-masing baru menutup pintu juga aman." Akhirnya kaum Quraisy Mekkah merasa lega.

Tidak lama kemudian sekelompok rombongan yang dipimpin oleh Sa'd bin 'Ubadah berteriak di depan Abu Sufyan dengan mengatakan: "Al-yaum yaum al-malhamah" (Hari ini adalah hari pembantaian), lalu Abu Sufyan mempertanyakan, mana yang benar, Nabi mengatakan hari ini hari berkasih sayang (al-yaum yaum al-marhamah) tetapi Sa'ad bin 'Ubadah, sang pemegang bendera Islam meneriakkan kata-kata: "Hari ini hari pembantaian (al-yaum yaum al-malhamah)". Tentu saja Abu Sufyan dan segenap warga Mekkah yang mendengarkannya merasa negri apa yang bakal terjadi dengan dirinya setelah mendengarkan pernyataan Sa'ad tersebut.

Mendengarkan keluhan dan kekhawatiran dari pihak Quraisy Mekkah, maka Nabi menjelaskan kepada Abu Sufyan, Sa'ad tidak benar, yang benar ialah yang pertama: "Hari ini hari berkasih sayang (al-yaum yaum al-marhamah)". Dijelaskan bahwa kemungkinan lidahnya Sa'ad bin 'Ubadah cadal, tidak bisa menyebut huruf "er" (ra), sehingga yang kedengaran: Al-yaum yaum al-malhamah (hari ini hari pembantaian), semestinya terucap: al-yaum yaum al-marhamah (hari ini adalah hari berkasih sayang). Mendengarkan penjelasan ini, maka Abu Sufyan bersama para penduduk kota Mekkah kembali tenang. Inilah kehebatan spontanitas yang dilakukan Nabi, dengan segera menciptakan ketengan dari keresahan warga.

Spontanitas-spontanitas cerdas seperti yang sering dilakukan Nabi sebaiknya juga dimiliki oleh para pemimpin dan tokoh, khususnya yang bertugas di dalam dunia diplomat. Seorang diplomat seharusnya tidak boleh terlalu kaku di dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Ini penting demi terciptanya situasi psikologis yang kondusif untuk menciptakan ketenangan di dalam masyarakat. Apa jadinya jika setiap orang, terutama tokoh dan pemimpin masyarakat, dengan sebebas-bebasnya memberikan pernyataan dengan menggunakan kata-kata yang tendensius dan berpotensi semakin menimbulkan ketegangan dan konflik di dalam masyarakat. Tidak sedikit ketegangan muncul di dalam masyarakat sesungguhnya bukan karena besarnya eskalasi konflik atau ketegangan di dalam masyarakat tetapi lebih merupakan kekeliruan para tokoh atau pejabat di dalam membahasakan situasi terakhir yang terjadi.

Apa yang dilakukan Nabi di dalam menyelesaikan persoalan di dalam pengambil alihan kembali kota Mekkah ke tangan Islam menarik untuk dipelajari. Sikap terbuka dan keagungan diplomasi yang dikuasai oleh Nabi Muhammad Saw betul-betul sangat inspiratif. Bukan hanya kali itu Nabi melakukan penguraian masalah dengan keterampilan diplomatis yang dimilikinya tetapi dalam banyak kesempatan lain berhasil menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Itulah Rasulullah Saw.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta


Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)