Pemudik dengan Mobil dan Motor Paling Bandel Selama Larangan Mudik

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 22:12 WIB
Terjadi penumpukan pemudik di pos Tanjungpura, Karawang, Selasa (11/5) dini hari. Begini potretnya.
Foto: Yuda Febrian Silitonga
Jakarta -

Staf Khusus dan Jubir Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati memaparkan tantangan utama dalam larangan mudik berasal dari moda transportasi darat, khususnya kendaraan pribadi dan sepeda motor. Sedangkan transportasi udara, laut, dan kereta api relatif telah disiplin.

Wanita yang akrab disapa Dita itu mengatakan transportasi yang keberangkatannya terintegrasi di satu titik keberangkatan seperti bandara, stasiun atau pelabuhan, sudah mematuhi aturan yang berlaku, yaitu tidak melakukan perjalanan keluar kota saat larangan mudik. Berbeda dengan kendaraan pribadi dan sepeda motor yang punya banyak akses dan jalan tikus.

"Kalau kita lihat profile dari orang-orang yang sudah melakukan perjalanan sebenarnya kalau kita bicara transportasi udara, laut, dan kereta api, itu relatif sudah sangat disiplin dan bahkan kita melihat ada penurunan sampai dengan 77% dari semua moda transportasi itu," ujar Dita dalam acara siaran Serba-Serbi COVID-19 #1: KENAPA BAIKNYA #TIDAKMUDIK? secara virtual, Selasa (11/5/2021).

Ia menjelaskan di moda transportasi udara menunjukkan penurunan yang lebih drastis yakni 93% di masa peniadaan mudik. Kemudian kereta api penurunannya sampai 88%.

"Memang yang paling menantang itu transportasi darat, khususnya kendaraan pribadi dan sepeda motor. Karena berangkat bisa dari mana saja, dari jalan apa saja, di mana disitu ada penyekatan, dijaga dengan kepolisian dan pihak daerah," ungkapnya.

Walau begitu, Dita mengatakan penyekatan akan dilonggarkan bila terjadi kepadatan. Ia menjelaskan pemudik akan disaring lagi di titik penyekatan berikutnya. Apabila tidak memenuhi syarat perjalanan, mereka akan disuruh putar balik.

"Kita akui petugas memang tidak sebanding dengan pemudik bersikeras mau lewat. Kita tetap melakukan pendekatan yang persuasif, humanis, sehingga ketika terjadi penumpukan yang memang susah dikendalikan, pihak kepolisian mengadakan diskresi. dengan harapan di penyekatan selanjutnya diadakan penyaringan lagi, karena penyekatannya tidak hanya satu," tuturnya.

Upaya meminimalisir penyebaran COVID-19 juga dilakukan dengan mengadakan random testing. Dengan begitu, orang-orang yang masih nekat melakukan mudik diharapkan tidak melakukan penyebaran di kampung halamannya.

"Ini menjadi upaya meminimalisir kepada orang yang berupaya, bersikeras untuk melakukan mudik diminimalisir setidaknya jika sudah sampai kampung halaman bisa dikurangi potensi penularannya," ungkap Dita.

Hadir di acara yang sama, Anggota Sub Bidang Mitigasi Satgas COVID-19 Falla Adinda mengungkapkan fenomena mudik di kala pandemi terjadi karena kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi di Indonesia.

"Bulan Ramadhan, terutama Indonesia dimana kita adalah mayoritas muslim, adalah bulan yang penuh kasih. Dimana idul fitri kepengennya ketemu sama keluarga, sungkem, ketemu eyang, ketemu nenek buyut, dan sebagainya. Dimana itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Dimana itu sudah menjadi tradisi, menjadi paket di Indonesia sepertinya kalau tidak mudik ada yang kurang sepertinya kalau tidak mudik lebaran menjadi hal yang hambar," ujar Falla.

Lebih lanjut, Falla menyatakan kegiatan mudik sebaiknya ditahan untuk menyelesaikan pandemi lebih cepat. Jika mudik tetap dilakukan, tentu akan menyulitkan pelayanan kesehatan.

"Ditahan dulu keinginan untuk mudik nya, agar kita bisa menyelesaikan pandemi ini dengan lebih cepat. Karena satu orang mudik itu bisa mengajak semua orang dan hingga ribuan orang bisa menjalankannya secara massal dan pergerakan orang orang secara banyak itu bisa meng-collapse-kan pelayanan kesehatan," jelasnya.

Sedangkan Tim Koordinator Relawan Edukator Fajri Addai menyatakan larangan mudik disebabkan karena manusia berperan sebagai pembawa virus COVID-19 dan mereka berpotensi membawa virus tersebut kemana-mana.

"Sudah ada datanya bahwa semakin banyak orang berpindah, itu virus akan terbawa, gitu. Jadi virus ini tidak akan bisa terbang sendiri. Pasti ada faktor atau ada orang atau benda yang membawa. Dalam hal ini, manusia yang membawa. Sudah ada studinya bahwa semakin banyak orang yang keluar rumah, angka penularan kasus akan semakin meningkat," ujar Fajri.

Lebih lanjut, Fajri mengungkapkan, walau memiliki angka kesembuhan hingga 91,5% penyebaran COVID-19 dapat bertambah banyak dengan kegiatan mudik.

"Jadi ketika nanti penyebaran semakin meningkat, otomatis. Walaupun angka kesembuhan kita memang besar, 91,5%. Tapi angka kematian nasional 2%. Artinya, kalau misalnya semakin banyak penularan, kan misalnya angka kita sehari 4.000, yang berat 2% misalnya. Tapi kalau nanti menular, jadi 100.000 orang, misalnya, jadi berapa ribu orang. Otomatis kan nanti angka kematian, angka yang berat bertambah banyak," pungkas Fajri.

(prf/ega)