Sidang Isbat 2021 Digelar Nanti Sore, Kenali Sejarahnya di Indonesia

Rahma I Harbani - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 07:25 WIB

Masa-masa awal kemerdekaan, kriteria awal bulan berlandaskan pada pedoman wujudu hilal.

Kemudian masa orde baru, penetapan 1 Syawal menggunakan imkanu rukyat yang memiliki 3 kriteria. Kriteria tersebut adalah tinggi hilal diatas 2 derajat, jarak hilal matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan sejak ijtimak adalah 8 jam.

Kriteria ini mulai dapat diterima di tingkat regional dalam forum Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada tahun 1974.

Saat masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, BHR sempat hampir dibubarkan karena dianggap tidak bisa memberikan pengaruh pada penyeragaman awal bulan Qamariyah dan pelaksanaan hari raya.

Namun, pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada 2004-2014, BHR kembali difungsikan dengan menambah anggota kepakaran dari bidang astronomi.

Tujuannya agar hasil dapat diputuskan tidak hanya diterima secara agama tetapi juga dalam ruang lingkup ilmiah.

Pada era ini pula, sidang isbat disiarkan langsung melalui televisi sehingga masyarakat dapat mengetahui rangkaian acara penetapan awal Ramadhan dan Syawal.

Pemerintah yang diwakili Kemenag memiliki otoritas dan wewenang dalam menetapkan hal tersebut dengan mengadakan sidang isbat tiap tahun. Menurut Iqbal, keputusan yang diambil selalu mengutamakan persatuan.

Melalui sejarah sidang isbat ini, kita mengetahui perbedaan waktu penentuan sidang isbat tidak perlu menjadi masalah. Sebab semuanya masih mengacu pada sumber yang sama yaitu, Al-Quran dan hadist.


(nwy/nwy)