Habis Manis Bupati Nganjuk Usai Di-OTT, Kini Tak Diakui Partai

Arief Ikhsanudin - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 07:22 WIB
Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat
Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat (dok. situs resmi Kabupaten Nganjuk)
Jakarta -

PKB dan PDIP selaku partai pendukung saling lempar soal status kader Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat (NRH), yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) di kasus suap jual-beli jabatan. Partai pendukung dinilai saling lempar tanggung jawab.

"Habis manis sepah dibuang. Ketika dulu pencalonan PKB dan PDIP saling klaim dalam mendukung NRH. Namun ketika terkena kasus korupsi mereka lempar tanggung jawab. Ini menandakan bahwa ketika pencalonan dulu diperebutkan karena NRH banyak fulusnya," ujar peneliti politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin, saat dihubungi, Senin (10/5/2021).

Menurutnya, kedua partai politik itu harus bertanggung jawab kepada masyarakat karena mereka menjadi partai pengusung Novi Rahman. Jangan hanya tampil saat Novi Rahman berhasil dalam mengelola wilayah.

"Partai-partai politik hanya ingin enaknya. Ketika berkasus, tak mau pikul tanggung jawab. Mesti gentle, mesti bertanggung jawab mengakui kesalahannya. Dan meminta maaf ke publik," katanya.

Ujang menduga alasan partai menjauh dari Novi karena tak ingin elektabilitas partai hancur di Nganjuk, bahkan nasional. "Lempar tanggung jawab antara PKB dan PDIP bisa saja karena PKB dan PDIP tak mau kena getahnya akibat kasus korupsi NRH," katanya.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Aditya Perdana pun menjelaskan bahwa ada kondisi di mana partai mendekati Novi saat pencalonan dan setelah menang pemilu. Novi bukanlah kader partai asli dan merupakan pengusaha.

"Jadi satu hal penting, kepala daerah, dia sebelumnya bukan menjadi kader partai, tapi jadi kader partai setelah jadi kepala daerah untuk kebutuhan partai sendiri. Anies Baswedan (Gubernur DKI), pernah ditanya (bakal masuk partai mana), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) juga pernah ditanya, istilahnya untuk menderek suara partai dalam pemilu atau pilkada," kata Aditya.

Namun, kondisi berubah saat kepala daerah terkena kasus korupsi. Partai politik benar-benar meninggalkan Novi.

"Mereka blak-blakan ngaku butuh figur untuk menguatkan. Saya aneh, ketika urusan korupsi malah lempar sana, lempar sini. Padahal itu tanggung jawab partai yang bersangkutan. Jangan hanya klaim saat menangnya saja. Istilahnya habis manis sepah dibuang," katanya.

Seperti diketahui, Rahman ditangkap KPK-Bareskrim karena diduga menerima suap terkait jual-beli jabatan di Kabupaten Nganjuk. Uang ratusan juta rupiah juga disita KPK dalam OTT Rahman.

Simak video 'Duduk Perkara Bupati Nganjuk Kena OTT KPK Hingga Ditetapkan Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikut

Selanjutnya
Halaman
1 2