Jaksa Cecar Dirjen Kemensos soal Nama-nama Pimpinan Komisi VIII

Zunita Putri - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 20:35 WIB
Sidang suap bansos Corona (Zunita/detikcom)
Sidang suap bansos Corona (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkap percakapan telepon antara Dirjen Linjamsos Kemensos Pepen Nazaruddin dan Ketua Sekretariat Komisi VIII DPR Sigit Bawono Prasetyo. Dalam percakapan itu terungkap pembicaraan diduga soal jatah bansos.

Hal itu diungkap jaksa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/5/2021). Jaksa awalnya memutar percakapan. Dalam percakapan antara Sigit dan Pepen itu, terungkap ada nama beberapa petinggi Komisi VIII DPR disebut, yakni Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto dan Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily.

Berikut transkrip percakapan yang ditampilkan jaksa:

Percakapan November 2020

Pepen: hari H hati-hati Selasa atau apa habis dari itu aku nanti kita ketemulah sengaja di situ

Sigit: ketemu sama saya?

Pepen: heeh

Sigit: iya tapi.... A... Adi

Pepen: ee...eee..ee

Sigit: Wahyono bawa sekalian itu, saya tadi ee.... ee.... buat Januari jangan dikasih lagi

Pepen: oh gitu? Heeh boleh

Sigit: paling bagus saya, punya saya itu kemarin buat percontohan, kurang ajar Adi Wahyono

Pepen: apanya yang bagus? Itunya?

Sigit: barang-barangnya...

Pepen: yang ada di Wahyono

Sigit: yang kemarin yang bansosnya...

Pepen: oh.

Sigit: yang dari saya yang paling bagus, berasnya premium, susunya bendera, buat percontohan ini baru bener kaya gini, ke PT-PT yang lain

Pepen: heeh

Pepen: Kang Ace habis pulang itu bos, soalnya nggak bisa ditinggal ruang menteri. Masuk.

Sigit: (suara tidak jelas) nanti sama Adi Wahyono panggil. Adi Wahyono wes nakal

Pepen: ha...

Sigit: kita minumin aja dia

Pepen: ya nanti si Adi suruh hubungi si itu ya?

Sigit: hah?

Pepen: (suara tidak jelas), Adi

Sigit: Adi

Pepen: ndak lah nanti Adi

Sigit: nggak. Gini, ye its eee suruh-suruh diplotingin dulu saya suruh dikasih. Katanya saya kasih 25 atau berapa untuk Adi itu ngomong. Halo

Pepen: yaudah nanti kasih tau si Adi ya

Sigit: yaya yaya

Pepen: yo yo yo

Jaksa lantas mengonfirmasi beberapa nama yang disebut dalam percakapan telepon antara Sigit dan Pepen. Pepen mengaku teleponan itu membahas tentang rapat dengar pendapat (RDP).

"Saksi tadi ada disebut nama Pak Yandri sama Pak Ace, siapa itu bisa dijelaskan?" tanya jaksa Ikhsan Fernandi

"Itu Ketua Komisi VIII dan Wakil Ketua," kata Pepen.

Pepen mengatakan pembicaraan telepon itu hanya membahas RDP, bukan terkait bansos. Namun jaksa menyambungkan transkrip percakapan itu dengan pernyataan Sigit, di mana dalam percakapan itu tidak sama sekali membahas RDP.

"Ya mereka mungkin komplain ke Adi, mungkin udah menyampaikan akan diplot sekian tapi ternyata oleh Pak Adi...," kata Pepen dipotong jaksa.

"Saksi yang tadi disebutkan antara saksi dengan Pak Sigit ya, ada Pak Adi Wahyono disebut namanya, buat Januari jangan dikasih lagi, yang kemarin buat percontohan kurang ajar Adi Wahyono, bisa dijelaskan pembicaraan ini terkait apa?" tanya jaksa KPK ke Pepen.

"Saya kurang tahu persis, tapi sepertinya ini kekecewaan beliau (Sigit) terhadap Pak Adi," jawab Pepen.

Jaksa lantas kembali mencecar Pepen terkait pernyataan Sigit yang memaparkan barang bansos percontohan dan soal KPA bansos Adi Wahyono disebut 'kurang ajar'. Pepen mengaku dia tidak mengerti maksud Sigit.

"Saya hanya menimpali beliau saja kan, pertama rencana untuk datang di RDP namun kami ada halangan karena kunjungan kerja. Kemudian beliau mengucapkan kekecewaannya kepada Pak Adi. Saya terus terang tidak sampai paham ininya, tapi saya ikutin aja," kata Pepen.

"Apa kaitannya Pak Sigit ini, Pak Yandri, Pak Ace, ini Saudara bicara dengan komisi VIII, kan?" tanya jaksa lagi.

"Kalau itu untuk dalam rangka dengar pendapatnya. Jadi, kalau kami berhalangan, bicarakan dulu dengan Ketua, gitu," ucap Pepen.

Jaksa pun kembali mencecar Pepen terkait percakapan ini, namun lagi-lagi Pepen berkelit. Dia hanya mengatakan pembicaraan itu berhubungan dengan Adi dan tidak terkait bansos.

"Menit 5.10, coba saksi jelaskan apa maksudnya disuruh plotting dulu suruh kasih 25, apa yang mau dikasih 25 itu?" tutur jaksa.

"25 itu apa, angka apa itu?" timpal jaksa.

"Ya kan saya tidak paham ini, 25 itu mungkin paket," kata Pepen.

Dalam sidang ini, Juliari Peter Batubara duduk sebagai terdakwa. Juliari didakwa menerima uang suap Rp 32,4 miliar berkaitan dengan pengadaan bantuan sosial (bansos) berupa sembako dalam rangka penanganan virus Corona atau COVID-19 di Kementerian Sosial (Kemensos).

Juliari didakwa menerima uang Rp 32,4 miliar itu bersama dua anak buahnya Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Adi dan Joko juga merupakan terdakwa dalam kasus ini hanya persidangannya terpisah.

(zap/jbr)