Jaksa ke HRS: Kan Banyak Penggemar, Kenapa Tak Tahan Diri?

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 15:50 WIB
Sidang kasus kerumunan Habib Rizieq (Foto: Luqman/detikcom)
Sidang Habib Rizieq (Luqman/detikcom)
Jakarta -

Jaksa penuntut umum menyampaikan unek-uneknya saat Habib Rizieq Shihab (HRS) diperiksa sebagai terdakwa kasus kerumunan di Megamendung, Kabupaten Bogor. Jaksa heran mengapa Rizieq tidak menahan diri meski tahu banyak penggemarnya.

"Ini pertanyaan yang menjadi unek-unek saya kepada Terdakwa. Dari setiap kegiatan Terdakwa di video dari bandara segala macamnya, saya tidak meragukan Terdakwa ini banyak pencintanya, banyak penggemar. Saya penasaran sekali dengan Terdakwa, pertanyaan ini unek-unek saya, mengapa Terdakwa tidak bersabar diri misalnya untuk acara tunda dulu?" ujar jaksa dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jalan Dr Sumarno, Cakung, Senin (10/5/2021).

Jaksa mempertanyakan kenapa Rizieq saat itu tidak membatasi adanya pengunjung saat kegiatan Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta Pusat. Terlebih, Rizieq juga pernah menyampaikan pernyataan untuk mendukung pemerintah soal protokol kesehatan COVID-19.

"Kenapa tidak acara tersebut di Petamburan mengundang orang sebatasnya dan disiarkan daring lewat virtual karena saya tidak meragukan lagi Habib ini pasti banyak yang datang, mengapa tidak melakukan itu? Padahal di Saudi terdakwa sudah mengatakan kepada Ustadz Sobri setiap saat Terdakwa melalui Hilal Merah kemarin mempunyai aktivitas membantu program pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID," ujar jaksa.

Rizieq mengklaim awalnya keberatan dengan usul perayaan Maulid Nabi. Namun dia mendapat kabar bahwa di mana-mana sudah dilakukan acara Maulid Nabi sehingga akhirnya dia setuju.

"Pada awalnya saya keberatan dilaksanakan peringatan Maulid dan itu sudah disampaikan Kiai Sobri, panitia, Ustaz Haris, bahkan saya lebih keberatan lagi kalau pernikahan diadakan di panggung," ungkap Rizieq.

"Tapi kemudian kita kan musyawarah, dalam musyawarah di Mekah dan Jakarta ini memperlihatkan informasi bahwa peringatan Maulid ini sudah dilakukan di mana-mana. Saya nggak tahu aturan rincian di sini, tahunya lagi pandemi ada aturan, PSBB. Tapi bagaimana regulasi perubahannya kan tidak tahu detail. Mereka mengatakan, 'Habib, ini di mana-mana sudah ada yang Maulid, dan itu bukan sekadar omongan, mereka tunjukkan videonya, Maulid Jakarta Utara, Maulid Jakarta Selatan, Cirebon, Bandung," tambahnya.

Rizieq menyebut dari salah satu video yang diperlihatkan kepadanya, terlihat acara pengajian yang ramai dan sudah rutin dilakukan sejak awal pandemi Corona. Dari sana, dia beranggapan kegiatan dakwah sudah bisa dilakukan dan ada pelonggaran soal protokol kesehatan.

"Salah satu peringatan Maulid yang mereka kirim, kemarin ditayangkan di sini, yaitu pengajian Jumat Kliwon yang dilakukan rutin setiap bulan sejak awal pandemi sampai bulan Oktober, itu mereka nggak pernah berhenti, dihadiri ribuan orang, saya terima videonya, yang duduk tanpa jarak dan tanpa masker. Saya pikir alhamdulillah kegiatan dakwah kalau sudah bisa bebas begini. Saya sebagai seorang dai melihat seperti itu saya husnuzan, bukan suuzan, saya bukan mengatakan ini, 'Oh Watimpres ini melanggar aturan. Saya nggak pernah mengatakan berpikir Wantimpres, ini kan anggota Dewan Pertimbangan Presiden akan melakukan pelanggaran prokes. Saya pikirnya mungkin ada dispensasi atau diskresi untuk acara keagamaan," jelasnya.

Atas dasar itulah, Rizieq akhirnya menyetujui adanya peringatan Maulid Nabi di Petamburan. Namun, dia mengakui bahwa terjadi pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 pada acara itu dan dia menerima adanya denda dari Pemprov DKI Jakarta.

"Itu yang akhirnya membuat saya menyetujui keinginan pimpinan DPP untuk peringatan Maulid, tapi saya tetap waswas. Maka itu saya beri syarat jangan langgar prokes ya. Saya berikan syarat itu, lalu akhirnya kemudian terjadi pelanggaran prokes pada saat peringatan Maulid ya artinya keputusan kita salah," ucapnya.

(run/knv)